Cerpen Muhtadi Chasbien (Rakyat Sultra, 21 November 2018)

Upaya Menghapus Kenangan ilustrasi Rakyat Sultra.jpg
Upaya Menghapus Kenangan ilustrasi Rakyat Sultra

“Apakah sebaiknya aku menyusulmu, Yuli?” Laki-laki itu bertanya, entah pada siapa. Di teras rumahnya, ia duduk sendirian. Sesekali aroma teh hangat buatan mertuanya masuk ke lubang hidung. Namun sebatas itu, ia tak tertarik untuk menyentuhnya sama sekali.

Ia ingat kejadian dua bulan yang lalu di malam kedua pernikahannya. “Sampai kapan kau akan terus-terusan seperti ini?” katanya memulai percakapan malam itu dengan nada sedikit tinggi. Jarak mereka tidaklah jauh. Ia berdiri di samping jendela kamar, sedangkan istrinya tiduran di atas ranjang. Ia berharap, malam pertama yang tak mengasikkan tak terulang di malam ini dan malam-malam berikutnya. Nyatanya, istrinya masih seperti malam sebelumnya; menghabiskan waktu di ranjang dengan bermain handpone.

“Kita dipertemukan oleh benda ini. Kau tentu ingat hal itu,” jawab istrinya lantang. Perempuan itu menatapnya tajam, seperti mata pisau.

Baca juga: Yang Retak di Malam Ketujuh – Cerpen Muhtadi Chasbien (Haluan, 15-16 September 2018)

Laki-laki itu mencoba menghindari sorotan mata istrinya. Sorotan mata yang membuat jantungnya berdetak kencang. Bukan karena perasaan cinta seperti saat pertama kali bertemu, melainkan perasaan takut. Takut bila istrinya pergi. Ia percaya, bukan lapar yang akan membuatnya dekat dengan maut, melainkan kepergiannya.

“Kok diam? Masih berpikir bagaimana cara menghentikan kelakuanku yang menurutmu menyebalkan?” lanjutnya.

Advertisements