Cerpen Eriyandi Budiman (Tribun Jabar, 18 November 2018)

Siluman Sungai Citarum ilustrasi Wahyudi Utomo - Tribun Jabar.jpg
Siluman Sungai Citarum ilustrasi Wahyudi Utomo/Tribun Jabar 

MAKHLUK cokelat tua keunguan itu menahan kuat bendungan yang nyaris jebol di jantungnya. Napas beratnya memompakan udara tak sedap yang kemudian menciptakan suara sejenis petir. Matanya nyalang menatap layar semacam laptop raksasa yang memperlihatkan dua orang pemuda kelahiran Prancis mengayuh sampan yang terbuat dari botol plastik air kemasan. Keduanya mengayuh di antara bentangan Sungai Citarum sambil mengambil gambar dengan handycam. Tingkah keduanya terlihat diikuti mata kamera lain yang dikendalikan seorang pilot drone dari bibir sungai. Berikutnya adalah data-data visual yang mengerikan mengenai kondisi Sungai Terkotor di Dunia itu, yang diposting di laman Facebook sang pemuda aktivis Make A Change World itu, dan kemudian tersebar di televisi CNN, TV5 Prancis, DAAI TV, serta sejumlah televisi internasional hingga nasional dan lokal.

Makhluk cokelat tua keunguan itu merasa akan datang jutaan mimpi buruk dalam setiap tidurnya.

Ia menutup layar semacam laptopnya, lalu melangkah menuju beranda yang mengalirkan pemadangan indah hektaran gulma eceng gondok, serta paras seksi lekuk tubuh sungai yang sehitam aspal. Sungai sepanjang 300 kilometer yang berhulu di Situ Cisanti, Kabupaten Bandung, hingga bermuara di Pantai Bahagia, Kabupaten Karawang, itu telah belasan tahun menghidupinya. Ia menahan geram, lalu berteriak menciptakan ledakan-ledakan di udara.

Baca juga: Darah Pertama – Cerpen Guntur Alam (Tribun Jabar, 11 November 2018)

Sejak kawasan Citarum dibendung untuk Waduk Saguling hingga Cirata, ia membawa anak istri dan saudaranya untuk mendirikan peternakan di sana. Jutaan roh ayam, babi hutan, cacing hingga semut menjadi peliharaan mereka. Para roh hewan korban dari banjir bandang yang diciptakan untuk membuat bendungan itu berpuluh tahun lalu memang melimpah dan perlu diorganisasi. Tak heran ada pula yang membuat kebun binatang di teraseringnya, terutama di atas dan bawah Bendungan Saguling. Begitu pula dengan para roh pohon yang memerlukan pekerjaan setelah mereka tak lagi dapat menghasilkan buah-buahan maupun getah hingga tubuh kayu mereka yang hebat itu. Makhluk cokelat tua keunguan itu mendapat durian paling runtuh dan utuh. Usahanya di bidang peternakan melesat, dan beritanya kemudian mengundang para siluman lain untuk ikut berbinis di kawasan itu.

Advertisements