Cerpen A Warits Rovi (Suara Merdeka, 18 November 2018)

Sepasang Kekasih di Atas Loteng ilustrasi Putut Wahyu Widodo - Suara Merdeka.jpg
Sepasang Kekasih di Atas Loteng ilustrasi Putut Wahyu Widodo/Suara Merdeka 

Lelaki itu mendapati tubuhnya seperti baru bangun tidur menjelang subuh. Namun dia terbaring di datar got berlumut, di tepi jalan raya yang dipenuhi lalu-lalang kendaraan, suara klakson beradu merebut cuping telinganya yang masih jadi sarang debu.

Silau lelampu kendaraan bagai kunang-kunang raksasa memburu angin, cepat, lesat, menuju arah yang jauh. Saat mendongak, bulan meringkuk di rimbun nyamplung.

Perlahan ia sadar, seruak bau tubuhnya amat menyengat, rambutnya panjang, awut, gimbal dimukim kutu-kutu. Kuku-kukunya panjang, hitam berdaki. Ia merasa jiwanya dipindah ke raga lain yang lama tak terurus, kadang ia juga merasa dilempar ke bumi baru. Namun kemudian ia hanya menduga, dia tidur berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Baca juga: Teh Kenangan – Cerpen A. Warits Rovi (Padang Ekspres, 30 September 2018)

Sedikit-sedikit ia ingat perihal kata hatinya bahwa hidup manusia adalah jagung pipilan dalam gilingan revolusi waktu, hingga semua pasti berubah, bagai biji jagung menghalus lalu menjadi nasi.

Setelah meyakinkan diri bahwa Awi namanya, ia lantas mengingat aktivitas terakhir sebelum hilang kesadaran; terakhir menemani Vita, kekasihnya, minum kopi robusta di loteng rumah kontrakan yang sepi.

Advertisements