Cerpen Muhammad Iqbal Baraas (Radar Banyuwangi, 18 November 2018)

Puputan Bayu Kenangan Bulan Desember ilustrasi Radar Banyuwangi
Puputan Bayu Kenangan Bulan Desember ilustrasi Radar Banyuwangi

Satu

Kangker jenis apakah yang ditiupkan Tuhan ke bumi? Ataukah benar bahwa itu kucing hitam nan liar yang lepas dari kandangnya, lalu masuk ruang sirkus, bermain di lingkaran api—menggelinding bersama bola-bola—loncat pada tali gantungan, bermain di ranjau-ranjau—meledak—dan lalu mati, dan yang lainnya menggerumbul, menundukkan kepala, menyanyikan obade—lagu kematian—yang lainnya lagi masih mencoretkan kukunya yang berkilatan ke tanah.

Kangker jenis apakah?

“Bunuh dia!!!”

Mata merah yang tak kedip-kedip memandangi bercak darah kusam di tangannya, terlepas dari siapa saja yang akan menghukumnya, dan siapa yang akan menolongnya, dan karena apakah ia dihukum, karena pikirannya, sikapnya, perlawanannya, keberanian, atau pengkhianatan. “Sebab musabab penyakit itu, awal mula dan akhirnya penyakit itu.”

Baca juga: Jam Kosong – Cerpen Ahmad Zaini (Radar Banyuwangi, 04 November 2018)

Diceritakanlah penyakit itu, bermula dari bibir para serdadu yang entah dari mana datangnya, menyeret kami, membenamkan kepala kami, seakan kepala itu ada di bak mandi—seakan kepala itu tak ‘kan lepas. Bibir bergemuruh menahan nafas. Darah di otak berdetak demikian kencangnya—seakan berseteru dengan pertolongan.

“Bunuh dia!!!”

Advertisements