Cerpen Mashdar Zainal (Jawa Pos, 18 November 2018)

Lelaki yang Tubuhnya Habis Dimakan Ikan-Ikan Kecil ilustrasi Budiono - Jawa Pos.jpg
Lelaki yang Tubuhnya Habis Dimakan Ikan-Ikan Kecil ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

KETIKA itu, ia masih tiga tahun. Hampir saban sore aku menggendongnya menuju pantai, tempat di mana sampanmu biasa ditambatkan. Aku berdiri dengan kaki tanpa alas, terendam pasir, terjilat lidah ombak. Pada hari-hari yang lewat, di tempat yang sama dan pada waktu yang sama, aku selalu menantikan titik hitam muncul dari garis batas antara langit dan laut. Berkedip-kedip diguyur matahari sore. Titik hitam yang perlahan mengembang menampakkan wujudnya sebagai sebuah sampan. Sampan kecil yang setia. Dengan kau di dalamnya. Serta sebuah jala tua yang selalu kuyup.

Hingga sore itu, sampanmu pulang dengan limpahan ikan—berbaga jenis dan ukuran, yang tak bisa kuhisab jumlahnya, namun tanpa tuan. Tanpa tuan.

Dua belas tahun kemudian, ketika ia telah berumur lima belas tahun, ia mengikuti jejakmu. Ia mulai bersampan untuk pertama kalinya. Pergi ke tengah laut, seorang diri. Hari itu, aku begitu cemas. Terbayang sebuah senja dengan sampan penuh ikan, yang berenang ke tepian tanpa tuan. Aku takut, kisah kehilangan dua belas tahun silam itu terulang. Lepas dari itu, selama ini ia tak pernah melaut seorang diri. Ia hanya ikut-ikutan saja jadi buruh nelayan. Seperti juga remaja-remaja pesisir sebayanya. Dari satu perahu ke perahu lain, bantu-bantu sekadarnya, dengan upah yang juga sekadarnya, hanya cukup buat jajan.

Baca juga: Hanya Anjing yang Boleh Kencing di Sini – Cerpen Mashdar Zainal (Jawa Pos, 12 Agustus 2018)

Seringkali ia berujar dengan murung, bahwa ia sudah cukup besar untuk pergi melaut sendiri, dengan perahu milik sendiri, dengan jala milik sendiri. Tak peduli sekecil apapun perahu itu. Lantas menghasilkan ikan sendiri. Tak peduli meski itu cuma seekor ikan teri.

Kerap kubisikkan padanya, “Dengar, Nak, suatu saat, kalau tiba waktunya, kau akan pergi melaut dengan perahumu sendiri, sebagaimana para lelaki dewasa pergi melaut dengan perahunya sendiri. Namun, untuk itu, kau harus banyak belajar…

Advertisements