Cerpen Anggi Nugraha (Media Indonesia, 18 November 2018)

Kepergian Bapak ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia.jpg
Kepergian Bapak ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

AKU sungguh tak mengerti apa awal mulanya bapak tiba-tiba saja menjadi pemurung. Usianya hampir menginjak 60 tahun kala itu. Tak lama lagi ia pensiun dari tugasnya sebagai guru pegawai negeri sipil. Masa-masa itu ialah waktu ketika bapak seperti kehilangan separuh jiwanya. Padahal, ibu baik-baik osaja. Atau, layaknya ia tengah ditinggal pergi anak-anak tercintanya. Tapi, aku dan juga kedua adikku ada di rumah. Kami sehat-sehat saja.

Setiap hari, sembari menunggu masa pensiunnya, bapak selalu tampak merenung. Di beranda rumah, ketika pagi datang, ia senantiasa berdiam diri. Tatapannya kosong. Tak lama kemudian, ia berangkat ke sekolah. Sekembalinya mengajar, tanpa sepatah kata pun ia ke ruang makan untuk mengisi perut lantas masuk ke kamarnya.

Baca juga: Matinya Sang Penulis – Cerpen Anggi Nugraha (Media Indonesia, 26 November 2017)

Aku pernah bertanya pada ibu kenapa bapak jadi seperti itu. Ibu menjawab, “Ndak tahu juga kenapa bapakmu seperti itu. Setiap ditanya, selalu saja diam.”

Apa mungkin bapak merasa sedih karena sebentar lagi akan pensiun? tanyaku pada ibu. Tapi, menurut ibu, tidak ada hubungan diamnya bapak dengan masa pensiun yang sebentar lagi tiba.

Baca juga: Koran Ahad – Cerpen Anggi Nugraha (Republika, 21 Mei 2017)

“Seharusnya, orang-orang senang bila pensiun,” ucapku. “Lihat itu Pak Syam, setelah pensiun, ia malah semakin bersemangat. Setiap pagi ia berolahraga, juga berkebun. Pokoknya hidupnya terasa benar-benar dinikmati sekali.”

Ibu pun hanya bisa diam manakala lagi dan lagi aku bicara perihal keanehan bapak padanya. Lambat laun, aku merasa seperti ada sesuatu yang tengah disembunyikan ibu padaku.

Advertisements