Cerpen Gde Aryantha Soethama (Kompas, 18 November 2018)

Bertemu Batu ilustrasi Karya Hazim Muhammad Zarkasyi Hakim - Kompas.jpg
Bertemu Batu ilustrasi Hazim Muhammad Zarkasyi Hakim/Kompas 

Bulat sudah tekad lelaki itu pergi ke pegunungan, menembus belantara pohon. Dia sudah jenuh bertemu laut, lelah berjemur di pantai. Sudah dua tahun dia menggali pasir, lalu berbaring membenamkan tubuhnya di lubang galian, hanya sebatas leher dan kepala yang tampak.

Selalu begitu ia lakukan, setiap matahari sore setinggi pinggang batang kelapa. Ia akan pulang jika matahari terbenam, mengibas-ibaskan pasir yang melumuri tubuh. Badannya akan terasa hangat, ngilu dan kesemutan berkurang, dan berharap tidur akan lelap ini malam. Tapi, laki-laki itu tak kunjung sembuh dari sakit yang bertahun-tahun ia derita, yang membuat badannya sering loyo tak bertenaga. Padahal ia sudah dengan tertib dan tekun menjalankan anjuran teman-temannya untuk membenamkan diri di pasir pantai yang hangat saban sore.

“Sudah banyak yang berhasil,” rajuk rekan-rekan lelaki itu. “Aliran darah akan lancar, bebas stroke, jantung membaik, diabetes lenyap, otot-otot kaki menguat, badan tak lagi pegal-pegal.”

Baca juga: Ida Waluh di Lereng Gunung Agung – Cerpen Gde Aryantha Soethama (Kompas, 26 November 2017)

Setelah dua tahun ia ikuti saran itu, tubuhnya memang terasa enteng, tetapi kadar gula darahnya selalu tinggi dan tak pernah stabil. Dokter menganjurkan agar menjaga asupan makanan dan rajin berolahraga. Sudah ia lakukan semua itu, tetapi cek laboratorium yang mengukur kadar gula darah selama tiga bulan (HbAlc) menyodorkan angka 7,5 pertanda ia masih menderita diabetes melitus. Semestinya kurang dari 5,7.

Laki-laki itu mulai putus asa, yakin ia tak akan sembuh dari penyakit kronis diabetes. Terbayang orang-orang yang ginjalnya rusak karena gula darah tinggi, pembuluh darah rusak, stroke, gagal jantung, mata rabun, kaki luka busuk diamputasi, dan akhimya mati pelan-pelan.

Advertisements