Cerpen Nanda Winar Sagita (Koran Tempo, 17-18 November 2018)

Saya Menikahi Seorang Ateis ilustrasi Koran Tempo.jpg
Saya Menikahi Seorang Ateis ilustrasi Koran Tempo 

“Kalau keindahan surga hanya sebatas gambaran kitab suci atau imajinasi Dante dalam The Divine Comedy,” kata Siti Zindiki, istri saya, “maka aku tidak tertarik untuk mati.”

“Tapi hidup abadi itu cuma dongeng, Sayang,” kata saya. “Dan, setelah mati, Tuhan hanya menyediakan dua tempat untuk kita: surga atau neraka.”

“Bukankah sudah sering aku katakan,” katanya. “Bagiku, tuhan itu cuma anagram dari hutan, tahun, dan hantu. Atau kalau kau mau dengar yang lebih acakadut: nthau!”

“Sayang,” kata saya, “kamu boleh-boleh saja tidak percaya kepada Tuhan. Tapi bagaimanapun juga kamu harus percaya pada kematian.”

Baca juga: Lina dan Perihal Babi yang Divisum – Cerpen Petrus Kanisius Siga Tage (Koran Tempo, 10-11 November 2018)

Jauh sebelum bertemu dengan Siti Zindiki, saya hanya seorang bocah dekil dari dukuh terpencil yang sudah terbiasa menyaksikan Pasukan Tentara dan Gerombolan Tiga Huruf [1] saling membunuh dengan mengatasnamakan Tuhan yang sama. Mereka berharap menang atau mati sebagai martir, tapi sampai sekarang saya masih belum bisa memastikan harapan pihak manakah yang benar-benar dikabulkan. Seperti semua orang yang tinggal di dukuh itu, satu-satunya harapan yang bisa saya banggakan adalah bertemu dengan hari esok; sekaligus menjadikan rasa pesimistis sebagai belenggu yang senantiasa menggerogoti nalar kebebasan liar di puing-puing benak masa kecil saya. Tapi sejujurnya: saya harus berterima kasih kepada siapa pun yang telah membawa perang ke dukuh kami, karena situasi tersebut sangat berandil besar dalam membentuk diri saya hingga menjadi seperti sekarang.

Advertisements