Cerpen Siska Yuniati (Minggu Pagi No 33 Th 71 Minggu III November 2018)

Balada Hujan ilustrasi Minggu Pagiw.jpg
Balada Hujan ilustrasi Minggu Pagi 

Wulan datang padaku bersama turunnya hujan. Hujan yang selalu aku benci di setiap rintiknya. Aku membenci hujan bukan tanpa sebab. Sebab hujanlah yang merenggut nyawa ayah ketika menjalankan tugasnya.

Ayahku seorang sopir barang pada sebuah perusahaan. Suatu kali mobilnya tergelincir di tengah hujan lebat. Menurut cerita ibu, waktu itu perasaan ibu sudah tak menentu. Ibu berusaha menahan ayah untuk tidak bekerja di hari libur. Namun kata ayah, ini sudah menjadi tanggung jawabnya, sehingga saat mendapat telepon untuk mengantarkan barang, ayah pun segera berangkat.

Akan halnya Wulan, saudara kembarku, tidaklah demikian. Ia selalu memandang ceria saat guyuran air dari langit itu jatuh ke bumi. Saat gerimis mengawali singgahnya hujan, mulut Wulan akan merapalkan doa-doa.

“Saat gerimis menghampiri, berdoalah, doamu akan terkabul,” lembut Wulan berucap kala mataku memandang sinis rintik air yang datang dari ujung langit.

“Ketika ayah dikebumikan, kata ibu, kita masih berusia empat tahun. Atas saran seluruh keluarga, kau, Wulan, akan dirawat Bude Lim, kakak dari ibu. Sedangkan diriku tetap tinggal bersama ibu. Hujan membawamu pergi, Wulan. Dalam hujan aku meronta-ronta, berusaha menggapai tubuhmu agar tidak beranjak. Pada kehidupan selanjutnya, hidupmu lebih makmur. Bude Lim sukses berniaga. Kau pun bergelimang harta. Berbeda denganku yang selalu menahan setiap keinginan lantaran menengok kondisi ibu yang tak menentu. Itulah Wulan, alasan lain mengapa aku membenci hujan.”

“Hujan sungguh lebat di luar. Bajuku basah karenanya,” Wulan berujar sambil mengibas gamis birunya.

Biarlah dia tahu bahwa hujan selalu menyiksa, merepotkan, dan mengabarkan hal-hal muram. Apa yang diharapkan penduduk ibu kota kala hujan datang, bukankah hujan selalu membawa banjir dan menimbulkan luka?

“Bukan hujan yang membawa petaka, tapi ulah manusia yang mengundang nestapa. Berdamailah dengan hujan, Sasi, hujan datang membawa cinta.”

“Cinta katamu? Aku justru kehilangan cinta bersama turunnya hujan. Randy memutuskanku beberapa pekan lalu. Dan hujan mengintip dari balik koridor sekolah. Lebih tragis lagi, aku menangis ditingkahi ricikan air hujan.”