Cerpen Aksan Taqwin Embe (Rakyat Sultra, 15 November 2018)

Masa Lalu yang Tertinggal di Dalam Tubuh ilustrasi Google
Masa Lalu yang Tertinggal di Dalam Tubuh ilustrasi Google 

 Iraya yang manis, apakah kau masih menyukai kopi kental ketika sedang bersedih? Tubuhku selalu gemetar ketika tiba-tiba teringat wajahmu. Aku adalah lelaki bujang bertubuh jangkung, rambut ikal berantakan sepanjang leher yang saban magrib duduk di bale sebelah sisi kanan depan rumah. Duduk dengan posisi tubuh tegap dan kaki yang terlipat. Suatu hari ketika aku dihajar kegelisahan dan sudah di puncak nyeri dada, aku melakukan kembali.

Perlahan aku memejamkan mata, merasai angin yang menerpa. Aku rasakan gejolak dalam jiwa, dalam pikiran yang terlunta-lunta. Aku mengatur napas sehemat-hematnya. Seperti yang kukatakan di atas bahwa aku duduk dengan tubuh tegap dan kaki terlipat. Selayaknya bermeditasi pada umumnya. Aku mendadak teringat dengan percakapan sepuluh tahun oleh Angelina James silam ketika ia memberikan materi meditasi dalam rangkaian acara Festival Opera Dunia di Perancis. Seseorang yang divonis hanya mampu bertahan hidup selama tiga bulan, kemudian ia kerap melakukan meditasi, ia selamat dari penyakitnya. Sebab ketika kau duduk dengan tangan ke belakang menahan tubuh, maka akan berakibat fatal pada ginjalmu.

Baca juga: Ibuku Malaikatku – Cerpen Nanda Rista Noviati (Rakyat Sultra, 05 November 2018)

Tiba-tiba aku merasa bahwa diriku telah bangkit. Aku keluar dari dalam tubuhku. Aku berjalan pelan-pelan kemudian berlari sekuat tenaga menuju rumahmu, Iraya. Aku berlari sambil berteriak memanggil-manggil namamu agar kau tak lekas pergi dari kepalaku. Kau tahu bukan, di tanah ini, di negara ini banyak orang-orang menjadi gila hanya perkara dendam dan masa lalu. Membunuh istrinya sendiri hanya karena cemburu. Membunuh tetangganya hanya perihal hujatan kesetaraan ekonomi. Membunuh anaknya hanya karena kegilaan masalah yang tak kunjung tuntas. Dalam stasiun televisi sekali pun, kebencian menjadi saling menghujat dan menjatuhkan. Ketahuilah Iraya, aku masih bisa mengendalikan pikiranku. Masih mampu menyederhanakan kegelisahanku.

Advertisements