Cerpen Junaidi Khab (Kedaulatan Rakyat, 11 November 2018)

Sehelai Kerudung ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Sehelai Kerudung ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat 

BEBERAPA hari sejak kabar itu kudengar, keadaan kampung jadi runyam. Ada warga merasa tak terima karena kerudung yang dipajang di depan rumahnya dibakar oleh anak lelaki yang berusia sekitar tujuh belas tahun. Adnan memasang kerudung itu sebagai jimat agar rumahnya tak diganggu jin atau setan.

Keadaan kampungku semakin kisruh ketika Adnan mengajak teman-temannya untuk memberi pelajaran pada Arif. Arif menghilang. Hanya teman-temannya yang dijumpai oleh Adnan.

‘Saya tak tahu, Pak. Kata Arif, berdoa minta pertolongan agar tak diganggu jin atau setan itu hanya kepada Tuhan. Kata Kiai Saman juga begitu.’

Baca juga: Tiang Lampu – Cerpen Junaidi Khab (Kedaulatan Rakyat, 26 November 2017)

Sebagian warga memang tahu tentang kerudung yang dipakai oleh Adnan agar terhindar dari gangguan setan dan jin. Dalam kerudung hitam itu, ada tulisan kaligrafi dari ayat-ayat al-Quran lalu dilingkari dengan kalimat syahadat.

Orangtua Arif pun bungkam yang semakin membuat Adnan marah bukan kepalang. Guru ngaji Arif yang mendengar kabar itu segera bertamu pada Adnan.

‘Pak Adnan, maafkan Arif yang tak tahu apa-apa itu,’ kata guru Kiai Saman.

Baca juga: Sebuah Lukisan – Cerpen Junaidi Khab (Lampung Post, 12 Agustus 2018)

‘Tak bisa Kiai. Kerudung berkaligrafi itu saya beli dengan harga mahal. Lagi pula itu sama saja dengan membakar kalimat syahadat yang menjadi pengakuan kalau kami beragama dan beriman.’

‘Tak harus begitu cara menyelesaikan masalah pembakaran kerudungmu itu, Pak Adnan. Kalimat itu kan tak seharusnya dikibarkan, cukup diamalkan lalu diajarkan pada orang-orang. Tak usah dibawa ribut.’

Advertisements