Cerpen Catherine Lacey (Haluan, 11 November 2018)

Secangkir Kopi ilustrasi Istimewa.jpg
Secangkir Kopi ilustrasi Istimewa

Dari sederet cerita tentang hal buruk yang terjadi dalam hidupku, salah satunya adalah tentang bagaimana aku bertemu suamiku.

Hari itu, ia mengenakan setelan jas dengan dasi merah tua. Bola matanya menjadi tampak lebih hijau dan rona pink pucat timbul di wajahnya. Ia sudah berumur 33 tahun tapi masih terlihat muda. Sedangkan aku yang baru berumur 21 tahun selalu dikira lebih tua. Waktu itu kami duduk bersebelahan di ruang tunggu sebuah kantor polisi yang sempit selama dua puluh menit. Sama sekali tak ada sepatah kata. Kami bahkan tidak melihat satu sama lain. Sulit rasanya ketika yang kau pikirkan hanyalah tentang ‘apa yang bisa dilakukan seorang wanita untuk dirinya sendiri’, atau tentang ‘bagaimana halaman berbatu bata di sore hari pada musim gugur yang indah bisa tiba-tiba menjadi tempat yang tak ingin kau kunjungi lagi’. Para petugas terlihat sedang menelepon. Beberapa dari mereka sedang berbicara melalui walkietalkie, dan seorang petugas berjalan ke arahku; menanyakan nama.

Baca juga: Kabar dari Australia – Cerpen Oxandro Pratama (Haluan, 04 November 2018)

“Elyria Marcus,” jawabku.

“Apakah anda kerabat dari Ruby?”

“Ya, saudara angkat,” kubilang. Karena kurasa mereka sadar bahwa Ruby berperawakan seperti orang Korea. Sedangkan jika dilihat penampilanku, jelas saja aku tidak Korea sama sekali. Petugas itu mengangguk paham kemudian menuliskan sesuatu pada catatan kecilnya. Ia lalu menatap suamiku—yang pada saat itu hanyalah orang asing yang sedang duduk di sampingku. Sama sekali belum terpikir tentang siapa dia dan mengapa dia duduk di sana.

Advertisements