Cerpen Syahirul Alim Ritonga (Republika, 11 November 2018)

Paket Terakhir ilustrasi Rendra Purnama - Republika.jpg
Paket Terakhir ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Dengan penuh rasa penasaran kutunggui lingkaran kecil bertuliskan loading yang terus berputar di layar komputer. Aku sudah tidak sabar hendak membaca email yang dimaksud Taro San. Tadi pagi ia berkata ada sebuah e-mail yang memintaku menjemput sebuah paket spesial di sebuah alamat. Hatiku berdegup senang, walau di sisi lain aku merasa bingung siapa orang yang mengirim pesan itu.

Saat e-mail terbuka, aku langsung membacanya dengan saksama, “Kami berharap paket ini diambil secara langsung oleh pegawai Anda bernama Joko, orang Indonesia, di alamat yang kami cantumkan. Ongkos tambahan atas pelayanan ini akan kami bayarkan pada saat pengambilan barang, arigatou gozaimas.”

“Mungkin kau pernah mengantar sebuah kiriman ke seorang gadis, kemudian dia jatuh hati padamu Joko San,” goda Taro San sambil tertawa.

Baca juga: Surat untuk Presiden – Cerpen Syahirul Alim Ritonga (Suara Merdeka, 22 Oktober 2017)

Kuabaikan candaannya dan kembali fokus membaca alamat si pengirim. Sejenak kemudian senyumku mengembang. Aku tahu alamat ini. Tentu saja. Ini adalah alamat nenek yang pernah kutemui bulan lalu.

Aku masih ingat, pada hari itu matahari musim panas bersinar lebih terik dari biasanya. Ditambah lagi, mood-ku sedang tidak baik, setelah permohonanku untuk pindah kewarganegaraan kembali ditolak pihak Imigrasi Tokyo. Semua hal tersebut cukup membuat aku ingin segera menyelesaikan tugas hari itu dan kembali ke ruang kantor yang sejuk. Namun, sayang, sebuah paket masih teronggok di dalam mobil menunggu untuk diantarkan.

Advertisements