Cerpen Edi A.H. Iyubenu (Jawa Pos, 11 November 2018)

Makplaaas, Tiba-Tiba Lupa ilustrasi Budiono - Jawa Pos.jpg
Makplaaas, Tiba-Tiba Lupa ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

SEUSAI menonton pentas Teater Gandrik yang mengangkat lakon Hakim Sarmin, ia jadi punya ilmu baru yang amat tak disangkanya. Ilmu “tiba-tiba lupa”. Makplaaas, lupa.

Maka, dengan wajah yang jauh lebih tenang dibanding sidang-sidang sebelumnya, ia duduk di kursi terdakwa yang biasanya terasa panas dan melelahkan dengan dada membusung dan wajah memandang tegak.

Sidang pun dimulai.

Hakim bertanya, “Apakah Saudara Terdakwa mengakui terlibat dalam pencurian APBD itu?”

“Maaf, Bapak Hakim yang Mulia, saya dituduh korupsi, bukan mencuri. Jaksa penuntut umum juga menyatakan demikian pada sidang-sidang sebelumnya. Tolong jangan rendahkan martabat saya. Ini ujian dari Allah kepada saya, saya harus kuat dan sabar sebagai mukmin,” sahutnya dengan sangat mantap.

Baca juga: Balung Kere (Bagian 2-Habis) – Cerpen Beni Setia (Jawa Pos, 04 November 2018)

Hakim terkekeh. “Oh, jadi Saudara Terdakwa yang mukmin tidak sudi disebut mencuri, ya?”

“Iya, dong! Itu rendah, hina, nista. Saya wakil rakyat, Bapak Hakim yang Mulia, saya mukmin yang taat ibadah pada-Nya. Tolong tempatkan saya pada derajat yang pantas.”

“Baiklah, baiklah….” Hakim melirik kawan-kawannya yang saling melempar senyum kecil. “Saudara Koruptor….”

“Pak Hakim!” Kali ini suaranya agak tinggi. “Saya ini belum divonis, belum inkracht, jadi jangan pakai sebutan itu. Ini sidang pengadilan atau Sri mulat, ya?”

Hadirin terbahak. Sangat keras. Termasuk jaksa penuntut umum dan kawanan pengacara yang minggu-minggu lalu saling beradu otot leher.

Advertisements