Cerpen Alpha Hambally (Media Indonesia, 11 November 2018)

Ketika Kucingmu Pergi Sebentar ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia
Ketika Kucingmu Pergi Sebentar ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

Rusli tetap berkilah tidak tahu ketika untuk ketiga kalinya pada hari itu Matondang mendatangi tokonya dan bertanya di mana kucing kesayangan Matondang yang bernama Roro Kendul. Tidak seperti dua kedatangan sebelumnya, bibir tebal yang menghiasi wajah Matondang kini hanya berjarak hitungan senti saja dari wajah Rusli yang ketakutan. Matondang mengancam apabila kucingnya tidak kembali pada hari itu juga, hal buruk akan menimpa Rusli dan seluruh barang dagangannya.

Rusli sama sekali tidak tahu keberadaan kucing bernama Roro Kendul itu. Terakhir kali, Rusli melihat Roro Kendul tertidur di depan toko mereka pagi tadi sebelum para pedagang lain mulai berdatangan dan membuka toko masing-masing. Suara gaduh di Pasar Raya yang semakin riuh membuat Roro Kendul terbangun lalu berjalan sempoyongan menuruni anak tangga seperti seseorang yang telah menghabiskan tiga botol tuak. Setelah itu, Roro Kendul tidak menampakkan ujung ekornya lagi di depan toko mereka.

Rusli sebenarnya sudah menceritakan apa yang dilihatnya, ketika tidak lama setelah Roro Kendul pergi, Matondang muncul dari balik tangga sambil bersiul-siul. Siul itu berhenti ketika Matondang mendapati kucingnya tidak ada. Mendengar apa yang dikatakan Rusli, Matondang hanya menaikkan bahunya sebagai tanda keheranan karena menurutnya, Roro Kendul mungkin hanya sedang buang air entah di mana.

Baca juga: Tahun Ini Ratih Juga Ingin Menangis – Cerpen Alpha Hambally (Koran Tempo, 15-16 Oktober 2016)

Sekian jam berlalu, Roro Kendul tidak kembali. Matondang mulai gelisah dan mondar-mandir di sekitar tokonya. Matondang bersandar di pembatas teras depan tokonya sambil mengamati keadaan pasar di bawah lantai tokonya berada. Tidak ada satu ekor kucing pun tampak di antara toko-toko yang menjual obat-obatan alami, perlengkapan ibadah, peralatan rumah tangga, pakaian, sepatu, camilan dan barang dagangan lainnya itu. Bahkan, tidak juga hingga satu lantai di bawahnya lagi yang menjual barang serupa, hingga lantai dasar yang dipenuhi penjual emas, jam tangan, dan kaset bajakan.

Advertisements