Cerpen Umi Rahayu (Suara Merdeka, 11 November 2018)

Gadis Itu Tak Suka Hari Minggu ilustrasi Hery Purnomo - Suara Merdeka.jpg
Gadis Itu Tak Suka Hari Minggu ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka 

Setiap Minggu, Ana tak punya harapan apa pun di sudut kamar sempit itu. Melalui kaca jendela kotak-kotak, gadis kecil itu melihat teman-temannya asyik berlarian di tanah lapang seberang rumah. Ada pula seorang teman sekelas ditemani sang ibu yang membawa semangkuk sup dan nasi. Sang ibu menyuapi anak itu.

Tak ada yang menarik, sehingga Ana tak beranjak. Dia tetap menekuri buku Pinokio. Teriakan dan gelak tawa dari tanah lapang terdengar cukup jelas, tetapi gadis kecil berumur sepuluh tahun itu bergeming.

Sikap Ana membuat Ayah dan Ibu bersyukur. Mereka bisa menyelesaikan pembuatan kue pesanan yang membeludak pada akhir pekan. Di dapur, Ibu sibuk mencampur bahan kue untuk kali ketiga. Adonan pertama saat subuh. Sementara itu, Ayah membungkus kue-kue dengan plastik, lalu menata dalam kardus. Jadi pukul 09.30 kue siap Ibu bawa.

“Ana sudah sarapan belum, Bu?” tanya Ayah seraya membungkusi kue.

“Ayah belum sarapan, dia sudah.”

Baca juga: Telur Aneka Rasa – Cerpen Umi Rahayu (Suara Merdeka, 25 Maret 2018)

Pengaduk adonan kembali berdengung ketika Ibu melihat jam dinding. Pukul 08.00.

“Kalau sudah selesai, taruh keranjang, Yah. Kue ini biar kuantar sore. Pengajian di Haji Bambang kan malam.”

Ayah mengiyakan. Usai memasukkan kue dalam plastik, ia segera membawa ke teras dan menata dalam keranjang di bagian depan sepeda jengki. Dari dalam kamar, Ana melihat Ayah hati-hati menata satu per satu kue lapis dan pia buah dalam keranjang. Ana menutup buku Pinokio yang telah puluhan kali dia baca.

Advertisements