Cerpen Guntur Alam (Tribun Jabar, 11 November 2018)

Darah Pertama ilustrasi Wahyudi Utomo - Tribun Jabar
Darah Pertama ilustrasi Wahyudi Utomo/Tribun Jabar

I

KAU menggigil, menahan letupan api yang menggelegak dalam dada. Tanpa kausadari, tanganmu mengepal sendiri, mencengkeram sabit berkilat dari batu yang ada di genggaman. Sayup-sayup, kau mendengar irama pokok-pokok kayu kecil yang terpisah dari akar. Wajahmu memerah. Lututmu bergetar. Kau menarik napas, mengembuskannya perlahan. Begitu. Berulang-ulang.

“Kenapa?” suaramu masih saja terdengar penuh letupan amarah, susah payah kau mencoba tak tersengal. “Kenapa, Habel? Kenapa harus dia? Bukan aku?”

Kau meyakini, matamu telah memerah saga kini. Seekor ular bergulung di dahan apel, mendesis, mengintai dan menunggu.

“Karena Inanna saudarimu,” ibumu menjawab demikian sembari sibuk menutupi puting susunya.

“Justru itu! Aku yang berhak!”

Baca juga: Bangkai Anjing dalam Kepala Ayah – Cerpen Guntur Alam (Jawa Pos, 30 September 2018)

“Kau ingin mengubah perintah-Nya?!” ayahmu menghardik.

Dadamu meledak. “Dia yang melempar kita dari surga!”

Ibumu membuang muka, membiarkan puting susunya terpampang. Wajahnya memerah. Ular di dahan pohon apel kembali mendesis. Dalam pandangan mata ibumu, ular itu menyeringai. Dia mengangsurkan sepotong ranting yang runcing. Ibumu bersembunyi tapi menggenggam erat rantingnya.

Advertisements