Cerpen Ahimsa Marga (Kompas, 11 November 2018)

Bapak ilustrasi Suprobo - Kompas.jpg
Bapak ilustrasi Suprobo/Kompas 

Uslaku baru 8 tahun ketika ibu melarangku mbeksa. [1] Padahal baru saja aku bisa naik kendi kosong, mengatur keseimbangannya sambil mbeksa dan memutarnya ke arah delapan mata angin.

Tapi kegembiraan bisa menguasai Beksan Bondan, langsung dipupus oleh ibu. “Ndhuk, mulai sekarang kamu tidak usah ikut latihan nari lagi di sana.”

Aku tidak tahu alasannya. Toh kursus beksa itu tidak bayar. Lagipula, bukannya ibu yang mendorongku belajar mbeksa?

Baca juga: Rumah – Cerpen Ahimsa Marga (Kompas, 23 September 2012)

Ibuku dulu penari Gambyong [2] di pendopo kewedanan, begitu bisik-bisik yang kutangkap dari kanan-kiri. Di situ Ibu bertemu laki-laki yang katanya adalah ayahku. Di kamarku ada potret laki-laki tak kukenal, tetapi tak pernah mengusik keingintahuanku.

Suatu hari sepulang sekolah, kulihat ibu bercakap-cakap dengan seorang laki perlente. Wajahnya halus, sedikit diangkat, menunjukkan dia berasal dari keluarga yang berbeda dengan kami. Ibu bersikap sangat hormat pada laki-laki yang dipanggilnya “Ndoro” itu.

Baca juga: Biyung – Cerpen Ahimsa Marga (Kompas, 07 Januari 2018)

Ketika melihatku, laki-laki itu mendekat, membelai kepalaku. Dia berbisik, “Panggil aku Bapak.”

Aku terpaku. Aneh rasanya dipeluk orang asing yang tiba-tiba memintaku memanggilnya “Bapak”. Sepintas kulihat ada kemiripan wajahnya dengan potret laki-laki yang tergantung di kamarku. Entah kenapa, potret itu lalu kusobek-sobek sampai hanya tersisa serpihannya.

Advertisements