Cerpen Riyan Prasetio (Padang Ekspres, 11 November 2018)

Bangku Tua Milik Bapak ilustrasi Orba - Padang Ekspres.jpg
Bangku Tua Milik Bapak ilustrasi Orta/Padang Ekspres 

SETIAP sore menjelang, bapak selalu duduk di bangku tua kesayangannya. Bangku yang terbuat dari bambu itu telah menemani bapak melewati senja yang begitu indah. Duduk dengan tenang sembari melempar pandang ke luar jendela untuk menyaksikan betapa indah panorama yang senja sajikan. Bapak selalu menikmatinya. Rasa lelah setelah seharian memeras keringat tampak memudar ketika ia duduk di bangku tua kesayangannya itu.

Melihat kebiasaan bapak yang duduk di bangku tua sembari mengedarkan pandang ke luar jendela memaksa ibu selalu menyiapkan ubi rebus dan segelas teh panas. Cemilan yang dibuatkan untuk menemani bapak menghabiskan senja bersama bangku tuanya itu. Terkadang, kalau aku pulang kerja lebih awal, aku akan menemani bapak dengan menyeret bangku plastik. Duduk bersebelahan dengan bapak sembari menikmati indahnya siluet jingga dari balik jendela kaca.

Bapak tidak bicara meski aku duduk di sebelahnya. Ia begitu khusyuk memandang ke luar jendela. Menikmati senja yang seolah hanya tercipta untuk dirinya seorang. Aku tidak pernah mengeluh ataupun protes akan hal itu. Malahan, aku mulai terbiasa menikmati senja dalam diam. Cukup meluapkan rasa takjub akan indahnya siluet jingga itu dengan menyunggingkan senyum dan rasa syukur di hati.

Baca juga: Anjing Pak Gendang – Cerpen Arsyad Salam (Padang Ekspres, 04 November 2018)

Bapak telah mengajarkan banyak hal kepadaku. Senja yang keindahannya hanya bisa dinikmati beberapa detik saja tidak boleh terlewatkan. Bapak juga tidak pernah mengabadikan keindahan senja dengan kamera yang aku belikan beberapa tahun yang lalu. Bapak hanya diam menatap senja, sembari menggoyang-goyangkan bangku tuanya itu. Seakanakan, senja yang dilihatnya sedang menyanyikan lagu paling indah di dunia ini yang hanya bisa didengarnya seorang saja.

Advertisements