Cerpen Petrus Kanisius Siga Tage (Koran Tempo, 10-11 November 2018)

Lina dan Perihal Babi yang Divisum ilustrasi Koran Tempo.jpg
Lina dan Perihal Babi yang Divisum ilustrasi Koran Tempo 

Matahari telah jatuh dan nyaris tenggelam di ufuk barat, sementara tiga perempat dari warna biru langit telah menguning. Perempuan paruh baya yang baru saja tiba di rumahnya langsung bergegas ke dapur. Dengan tangan kanan, ia meraih lapi [1] dari handuk bekas yang kumal di atas balai bambu, menaruhnya di bahu kiri, sementara tangan kirinya sigap meraih sebilah arit. Bersama cuit camar yang pulang ke sarang, dari dapur, ia bergegas mengayunkan langkah ke bukit di sisi utara kampungnya.

Setapak curam, semak ilalang tua, pendakian terjal, dedaunan kering, patahan ranting rapuh adalah teman perjalanannya menuju bukit. Perjalanan ke bukit, baginya, bukanlah perjalanan biasa. Sebab, perjalanan itu akan menjadi penanda akhir sebuah pertarungan. Sekali lagi ini adalah jalan penting baginya.

Musim panas yang panjang telah menguapkan separuh kehidupan di kampung. Dedaunan meranggas, rumput mengering, dan ranting merapuh. Satu-satunya tempat yang menyisakan warna hijau kehidupan hanyalah di lembah, sisi selatan dari bukit. Ke tempat inilah, Lina, nama perempuan paruh baya itu, menuju. Dedaunan dan rumput hijau telah menarik langkah kakinya.

Baca juga: Rasanya, Bus Ini Teramat Lamban – Cerpen Mardi Luhung (Koran Tempo, 03-04 November 2018)

Perjalanan yang menempuh hampir tiga kilometer jarak pulang dan pergi itu dilakukannya dengan bahagia. Sebab, ia tahu, sebentar lagi pengorbanannya akan terbayar. Witu, demikian nama babi betina piaraannya, akan segera beranak. Harga pakan pabrik yang akhir-akhir ini melambung di pasar tak mungkin terbeli, sementara babi itu tetap butuh banyak makanan bergizi agar dapat beranak dengan baik. Dedaunan dan rumput hijau bisa menjadi pengganti yang cukup sepadan sebagai asupan gizi.

Advertisements