Cerpen Dian Nangin (Analisa, 04 November 2018)

Rahsia Separuh Abad ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisa.jpg
Rahsia Separuh Abad ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa 

ENTAH kenapa beberapa tahun belakangan ini, wajah ayahku sering tampak seperti sedang menanggung sebuah beban berat. Seakan batu besar tengah menindih hatinya, membuatnya mudah lelah, padahal kami sudah tak membebankan padanya pekerjaan sekecil apapun. Barangkali sebuah balas jasa terbaik—walau mungkin tak akan pernah setimpal—yang dapat diberikan anak kepada orang tua. Mengambil alih semua pekerjaan dan tanggung jawab, lalu membiarkan mereka menikmati usia senja dengan tenang.

Aku dun saudara-saudaraku telah melakukan segala yang terbaik yang terpikir oleh kami. Seharusnya ayah bahagia melihat semua anak dan cucunya hidup rukun tanpa pernah menjadikan persoalan apapun menjadi besar. Aku sering bertanya-tanya dalam hati, apalagi yang kurang? Wajah tua ayahku semakin lebih sering suram kendati dia suka tertawa untuk menipu kami.

Suatu hari dia menceritakan padaku kisah ini.

Pada masa mudanya, ayah pernah frustasi karena tak juga mendapatkan pekerjaan padahal sudah hampir dua tahun menggenggam ijazah sarjana. Tuntutan hidup semakin membengkak. Tekanan pertanyaan dari segala penjuru mengenai pekerjaan, ayah pun memilih mencari uang dengan jalan pintas. Apa saja, asalkan menghasilkan dalam waktu instan.

Baca juga: Barlin dan Anjing-anjing – Cerpen Dian Nangin (Analisa, 12 Agustus 2018)

Suatu petang temaram, dia menghadang sebuah sepeda motor yang melintas di gang asing yang sepi. Calon korban pertamanya. Seorang perempuan muda yang berkendara seorang diri dengan pcnampilan tampak seperti baru pulang kantor.

Setelah membidik dengan cermat dan penuh perhitungan, dia menyalip perempuan tersebut. Tangannya cekatan menarik tas milik korban yang tersampir di pundak. Setelah berada dalam genggaman, dia berencana segera kabur sejauh dan secepat mungkin.

Advertisements