Cerpen Wicak Hidayat (Kompas, 04 November 2018)

Merah Pedas ilustrasi Samuel Indratma - Kompas.jpg
Merah Pedas ilustrasi Samuel Indratma/Kompas 

Di atas batu, merah terguling. Potongan-potongan cabai dengan kulitnya yang keriput. Satu demi satu terjatuh dalam gerak lambat, memantul pada permukaan yang kasar. Lalu butiran garam yang putih. Beberapa irisan gula merah, serpihan cokelat kehitaman. Lalu tumbukan pertama yang perlahan menghancurkan semuanya, dari bentuknya yang utuh dan terpisah-pisah menjadi satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Merah. Pedas.

Semua dimulai, kata Ibu, dari hatimu. Untuk apa kamu mau membuat sambal ini? Siapa yang bakal memakannya? Apa yang kamu inginkan mereka rasakan di saat-saat lidah mereka menyentuh campuran bahan-bahan ini? Merah. Pedas.

Lisa kecil menikmati momen-momen ini. Melihat tangan lentik ibunya menari di atas bahan-bahan. Jari-jari itu seakan punya jiwanya sendiri, memilih di antara batang-batang cabai yang tampak agak keriput dan menentukan mana yang akan diambil. Ibu selalu memetik cabai dengan tangannya sendiri, mematahkan tubuh merah itu ke atas cobek batu kasar, satu demi satu. Begitu pun garam, ia menjumputnya lalu memilin di antara ujung-ujung jari sambil membiarkan butiran-butiran itu mengalir. Saat semuanya sudah menjadi satu kesatuan, jari-jari Ibu juga yang menggores tepinya, dan menyelinap antara kedua bibir. Merah. Pedas.

Baca juga: Segulung Kertas Kecil di Ubi Rebus – Cerpen Martin Aleida (Kompas, 21 Oktober 2018)

“Ibu,” kata Lisa kecil. “Kenapa Ibu selalu bikin sambel kalau Ayah pulang?” Ibunya, dengan beberapa bulir keringat yang mulai timbul di dahi, helai-helai rambut menggayut kusut, menatap Lisa dengan pandangan yang lembut. Tersenyum. Lalu berkata: “Ayah suka sama Ibu gara-gara sambal. Ibu mau Ayahmu enggak pernah lupa itu. Supaya Ayah kangen terus. Supaya Ayah jatuh cinta terus sama si Merah Pedas.”

***

Gun menahan lidahnya. Ia tidak mau berkata-kata buruk sepagi ini. Kucing belum juga selesai mandi, masak ia sudah harus bertengkar lagi? Tapi memang ia kadang tidak kuat juga, melihat istrinya yang masih asyik meringkuk di balik selimut. Ya, istrinya itu bukan sosok ideal. Layla yang gempal, berkulit gelap. Jauh dari bayangan wanita sempurna yang ia susun dalam kepalanya saat remaja dulu. Wanita yang langsing, berambut panjang. Senang tersenyum dan tertawa. Wanita yang lihai dengan ulekan dan cobek. Sambalnya mendebarkan dada, memacu jantung. Membangkitkan gairah huh-hah huh-hah, membuatnya ingin bikin anak berlusin-lusin. Sedangkan Layla? Sambalnya melempem, tak menantang, luput dari sensasi yang menggetarkan lidah, apalagi jantung. apalagi bikin gairah!

Advertisements