Cerpen Daruz Armedian (Media Indonesia, 04 November 2018)

Keris Lancip Putri Nglirip ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia.jpg
Keris Lancip Putri Nglirip ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

Hingga kini kau masih di dasar kedung1 di daerah Jojogan2, menjaga mayatmu sendiri, yang tak lapuk meski terendam air dalam kurun bertahun-tahun. Mayat yang sungguh menyedihkan; dadanya terluka dan kakinya diikat dengan tali yang disangkutkan pada batu besar sehingga tak mungkin untuk mengapung. Kau tidak ingin hidup kembali karena perempuan yang kau agungkan sudah memilih mengurung diri di gua sampai mati, di balik air terjun biru tua (air terjun yang gaduh, riuh, seolah itu ungkapan ‘aduh’ dari air yang jatuh), tepat di atas kedung itu. Dan, toh, meskipun ingin kembali, kau tidak mungkin bisa melakukannya. Tubuhmu sudah menjadi mayat.

Perempuan yang kau agungkan mati tidak meninggalkan apa-apa kecuali keris lancip berukiran naga tua. Keris peninggalan seorang ibu yang pernah menembus jantungmu.

Itu terjadi pada suatu pagi yang tak sempat kau catat sebagai hari paling mengerikan seumur hidupmu. Kau mengunjungi rumah perempuan yang kau cintai. Perempuan yang kelak dalam sebuah dongengan Tuban disebut sebagai Putri Nglirip.

Seorang gadis cantik, yang kira-kira deskripsi lengkapnya seperti ini: berambut panjang hitam legam, kulit putih alami, gigi rapi, hidung mancung, dan wajah mungil yang menyimpan bahagia.

Baca juga: Kesetiaan Adalah Ketabahan Menunggu – Cerpen Erwin Setia (Media Indonesia, 28 Oktober 2018)

Kau mengetuk pintu rumahnya dan ia membuka pintu itu. Ia menyambutmu. Ia, dengan kesendiriannya, mengaku bosan di rumah setiap hari. Tanpa banyak bicara, kau menggandeng tangannya dan berjalan menuju lembah tempat air terjun berada. Sepanjang jalan, wajahnya ceria dan memang semenjak mengenalmu, ia selalu terlihat ceria. Padahal, sebelumnya, kau tahu ia selalu murung sejak kehilangan seorang ibu yang kebetulan sudah janda. Seorang ibu yang mati karena sakit dan tak punya biaya berobat ke dukun.

Advertisements