Cerpen Oxandro Pratama (Haluan, 04 November 2018)

Kabar dari Australia ilustrasi Istimewa.jpg
Kabar dari Australia ilustrasi Istimewa

Pada pukul tiga pagi saat ayam pun belum meraung, waktu belum mengejar ketergesaan Bu Pon yang telah bangkit dari kasur keras tempat ia dan suaminya tidur. Seperti biasa, ia bangkit lalu meninggalkan suaminya yang berbaring di sampingnya—begitu lelap, hingga tak menyadari keberanjakan Bu Pon dari kasur tua berisik itu. Suasana begitu hening, senyap—hanya napas yang dapat terdengar. Matanya masih segaris, tetapi tak sedikit pun mempengaruhi keseimbangan tubuhnya saat berjalan menuju dapur; tenang, begitu tenang. Ia basuh kulit wajah yang telah diserang keriput itu, hingga kantuknya terbunuh seketika.

Air matanya mengalir deras saat mencoba menyempurnakan salat dengan beberapa penggal dari seluruh isi hatinya di dalam doa. Ia tidak meminta sesuatu, hanya mencoba memastikan kepada Yang Satu akan betapa senang dan haru hatinya subuh ini, hingga tak tertahankan hatinya untuk bahagia walau air mata ikut ambil bagian dalam kebahagiaan itu.

“Ya Allah, terima kasih telah membukakan jalan untuk anakku, yang sangat telah atas kebuntuan hidupnya. Ya Allah, semoga kebahagiaan ini selalu menjadi pengingat untukku dan anakku, apabila tiba saatnya kesedihan datang menghampiri kami dan menguji kami. Juga cobaan-cobaan yang pasti tak akan pernah luput dalam setiap perjalanan kehidupan, amin.” Air mata mengucur dari kedua matanya, mengalir melalui bandar keriput pada pipi.

Baca juga: Yang Ditinggalkan – Cerpen Delvi Yandra (Haluan, 28 Oktober 2018)

Setelah menyelesaikan doanya, Bu Pon mohon diri pada Yang Maha Kuasa. Perlahan bangkit dari simpuhan. Hatinya yang begitu hangat karena dilanda kebahagiaan, membuat dirinya lupa pada lelah hari-hari yang akan segera dijelang. Pagi ini, ada tiga macam samba yang akan ia masak sekaligus: goreng belut, ayam rendang, dan telur balado. Masakan-masakan itu akan dibawa Nazir, anaknya, yang akan terbang ke Australia.

***

Advertisements