Cerpen Ahmad Zaini (Radar Banyuwangi, 04 November 2018)

Jam Kosong ilustrasi Radar Banyuwangi
Jam Kosong ilustrasi Radar Banyuwangi 

Pagi itu angin berembus lirih. Belai halusnya menerpa tubuh anak-anak yang mengayuh sepeda ke sekolah. Rupanya alam sangat bersahabat saat itu. Alam melindungi anak-anak yang berangkat menimba ilmu agar seragam sekolahnya tidak basah kuyup oleh keringat yang bercucuran. Demikian halnya dengan para murid putri. Wajah mereka tetap anggun terbungkus jilbab meski mereka berjalan kaki dari rumah menuju ke sekolah. Tak sedikit pun bagian wajahnya yang berlumuran keringat. Mereka tampak segar. Mereka bersemangat untuk menimba ilmu di bangku sekolah.

Waktu belakangan ini anak-anak di sekolah tidak ada kegiatan. Mereka bermain dan bergurau di halaman sekolah. Ada pula di antara mereka berkejar-kejaran. Mereka keluar-masuk ruang kelas sambil tertawa girang. Di wajah-wajah polosnya tidak tebersit rasa kecewa. Tak ada rasa nggrundel dalam hati mereka.

Baca juga: Hikayat Kota Kabut – Cerpen M. Arif Budiman (Radar Banyuwangi, 28 Oktober 2018)

Di sekolah tersebut ada enam ruang. Setiap ruang terdiri dari dua puluh sampai tiga puluh murid. Di kelas-kelas tersebut tak pernah ada guru yang berdiri di depan kelas. Tak ada suara guru yang lantang menyampaikan pelajaran. Tak ada guru yang membuat kuis lalu memberi penghargaan bagi murid yang memenangkannya. Tak ada guru yang menagih tugas yang diberikan kepada murid. Kelas-kelas hanya berisi puluhan murid yang menunggu kehadiran para guru sambil bergurau dan bermain-main sekehendak hatinya.

Baca juga: Usia Usai – Cerpen Kunglhe Fhreya (Radar Banyuwangi, 21 Oktober 2018)

“Anak-anak, silakan berkumpul di musala sekolah,” seru seseorang dengan tiba-tiba.

Para murid terdiam. Mereka menatap seorang lelaki yang mengenakan seragam batik dan berkaca mata tebal ini.

“Baik, Pak Ali,” sahut para murid dengan serentak. Mereka pun berlarian menuju musala sebagaimana yang disarankan oleh Pak Ali Shodiqin, nama lengkap guru tersebut.

Advertisements