Cerpen Masriadi Sambo (Republika, 04 November 2018)

Di Tengah Desing Mesiu ilustrasi Rendra Purnama - Republika.jpg
Di Tengah Desing Mesiu ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Kami duduk selonjor di teras rumah setelah berziarah ke permakaman Ayah. Bersandar ke dinding papan dicat warna hijau muda. Emak duduk persis di samping kananku. Jarinya menggelung suntil, menyelipkan ke sela gusi.

Tujuh hari lalu, Ayah meninggalkan kami untuk selamanya. Pergi ke alam sana, menghadap Sang Pencipta. Hari ini kami menziarahi makam Ayah. Semalam hujan turun menghujam bumi tanpa ampun. Tanah di makam susut dan hari ini kami merapikannya. Membentuk tanah itu menggunung layaknya sebuah makam.

Mata Emak tertuju ke kampil, merogoh kacip untuk mengupas pinang. Lalu menoleh ke jalanan, sembari tangannya mengupas pinang. Emak bisa mengupas pinang pakai kancip tanpa melihat ke arah pinang. Tatapannya kosong. Anggannya melambung ke belasan tahun lalu.

Baca juga: Pertunjukan Monolog – Cerpen Latif Fianto (Republika, 28 Oktober 2018)

Saat itu, kampanye kemerdekaan daerah ini baru bermula setelah lama mati suri. Pertemuan dalam rapat akbar di sejumlah tanah lapang kerap digelar. Emak tak mau tahu urusan politik negeri. Baginya, urusan politik urusan kaum elite. Bukan rakyat.

Kata Aceh harus merdeka itu sudah didengar Emak sejak remaja. Ritus sepuluh tahunan isu itu terus bergelora. Selalu terjadi perlawanan antara gerilyawan dan aparat keamanan negara per 10 tahun. Dan ditumpaskan lewat desing mesiu bersahutan membelah malam. Menerabas awan.

Advertisements