Cerpen Beni Setia (Jawa Pos, 04 November 2018)

Balung Kere (Bagian-2-Selesai) ilustrasi Budiono - Jawa Pos.jpg
Balung Kere (Bagian-2-Selesai) ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

(Bagian 2-Habis)

“SIAPA yang njerat?”

“Den Sukrojendra. Pakai dadung sapi, leher dijerat, ditarik sekuat tenaga dengan satu kaki disetumpukan di kuduknya—talinya disentakkan. ‘Kamu itu pengen dikawini anakku? Ndak bisa, ia akan kawin dengan Maksaiti, anak perempuan Silitijo, cucunya Kucurbasi,’ katanya. Mereka membungkus tubuhnya dengan seprai, mengangkat serta menyimpannya di kandang—Mbok Tenan disuruhnya mengganti seprai. Membungkus sarung bantal dan guling, jarit, dan kebaya, sandal dan tas. Memasukkannya ke dalam goni dan dibakar di kebun bersama daun kering, sisa kotoran, serta sampah kandang. Lepas tengah malam, aku, Glugu Kepruk, dan Blandar Setan menggotong mayatnya ke tegalan di kanan jembatan kereta Balung Kere, setelah bakda Isya Gondo Blesur diam-diam menggali lubang di pinggir Bengawan Jayanem.”

Tepat di mana pohon kiara diam-diam ditanam dan tumbuh perkasa—kata Mbok Tenan—, dan pohon itu sengaja ditanam Sukrojendra setelah mayat si wanita itu digali lagi—serta dipindahkan. Benarkah? Ke mana? Tak ada yang tahu. Meski ada si orang kampung yang bersumpah kalau penggalian itu memang ada—oleh orang-orang asing yang datang senja serta pulang pagi di Tinggrantul. Sekaligus memaksa orang kampung untuk percaya bahwa di tegalan itu mungkin pernah ada makam wanita misterius pacar Gegrasana, yang pelan diiyakan oleh semua orang kampung—yang nafkah hidupnya bergantung kemurahan Sukrojendra, pemilik sawah dan ladang tak terukur itu.

***

Baca juga: Balung Kere – Cerpen Beni Setia (Jawa Pos, 28 Oktober 2018)

KARENA tak bisa melacaknya, semua orang kampung pun memilih cerita bahwa si wanita misterius itu dikuburkan di sana, masih terkubur di kanan jembatan kereta api Balung Kere. Dan kalau sisa tubuhnya telah dipindahkan, rohnya pasti kekal menghuni peritanda kubur yang berujud pohon kiara. Pohon wingit tumbuh subur, merimbun di tepi Bengawan Jayanem, menaungi pangkal palung dangkal seberang jembatan kereta, merentang sepanjang tujuh puluh tujuh meter—melampaui kolong jembatan mobil. Di mana ikan-ikan liar hidup bebas tanpa seorang pun yang berani menangkapnya. Karena semua orang kampung percaya bahwa ikan-ikan itu—bahkan ular itu—mainan si wanita yang entah bernama siapa dan entah berasal dari mana. Dianggap harus tetap anonim, tak bernama dan tak punya asal usul, tak peduli beberapa orang tahu dan berkeras ada mengabarkan bahwa si wanita itu bernama Ayulia atau Ayu Titing.

Advertisements