Cerpen Arsyad Salam (Padang Ekspres, 04 November 2018)

Anjing Pak Gendang ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Anjing Pak Gendang ilustrasi Orta/Padang Ekspres 

Sejak dulu, anjing tak bisa hidup di kampung kami. Kenapa begitu? Saya sendiri tak tahu. Tapi sepanjang yang saya ingat, binatang yang dikenal punya penciuman tajam itu tak pernah bisa hidup lama di sana. Entahlah kenapa demikian. Menurut cerita ayah, dulu di kampungku sebenarnya banyak anjing. Tapi hanya sedikit orang-orang tua yang tahu kenapa anjing tak bisa bertahan hidup di sana. Berhubung orang-orang tua yang mengetahui riwayat hewan tersebut semuanya sudah meninggal, maka cerita soal keberadaan anjing di kampungku akhirnya dilupakan. Dengan demikian, cerita mengenai perihal hewan tersebut terpotong sampai di situ. Cerita soal anjing ini kata ayah, kembali menghangat bersamaan dengan kemunculan seorang lelaki dari Bungku. Namanya Golopi. Ia datang sendiri, tanpa anak, tanpa istri. Yang ia bawa hanya seekor anak anjing dan sebuah gendang.

Menurut pengakuan beberapa warga yang pertama kali mengenalnya, lelaki itu mengaku sebagai orang Kaili. Tapi menurut warga lainnya, konon lelaki itu berasal dari Banggai. Entahlah mana yang benar. Ayahku belum sempat bertemu dengan Golopi selama kedatangannya. Yang jelas setelah beberapa lama tinggal di kampung kami, lelaki ini lebih dikenal dengan nama Pak Gendang. Tentang ini, ayah juga menceritakannya kepadaku dan akan saya ceritakan pula kepada kalian.

Baca juga: Suamiku Ingin Mati di Wawonii – Cerpen Arsyad Salam (Padang Ekspres, 05 November 2017)

Ketika pertama tiba, Golopi tinggal agak jauh dari kampung di sebuah rumah kebun yang telah kosong ditinggal pemiliknya. Orang kampung membiarkan Golopi menempati pondok itu karena ia mengaku pemilik pondok itu masih keluarga dekatnya. Lebih dari itu, tak satu pun warga yang tahu latar belakang lelaki berpostur tinggi dan tegap ini.

“Kenapa ia sendiri saja? Di mana istrinya?” demikian seorang warga pernah bertanya kepada ayah.

“Barangkali ia memang belum menikah,” sahut ayah.

Tapi orang itu masih penasaran.

“Ah, masa sih?”

Advertisements