Cerpen Mardi Luhung (Koran Tempo, 03-04 November 2018)

Rasanya, Bus Ini Teramat Lamban ilustrasi Koran Tempo
Rasanya, Bus Ini Teramat Lamban ilustrasi Koran Tempo 

Aku pulang. Ya, aku pulang. Setelah dua belas tahun mengembara. Mengembara tanpa sebaris pun berkirim kabar. Mengembara ke kota-kota yang jauh. Kota-kota yang beraneka ragam. Ada Kota Pendapat. Kota Tidur. Dan Kota Hantu. Aku pulang. Ya, aku pulang. Pulang ke kampungku. Ke ibu. Ke ayah. Ke adik-adikku. Juga, mungkin jika masih menungguku, ke Rita. Lengkapnya Rita Prihatiningsih. Kekasihku.

Kekasihku yang mempunyai wajah bulat telur. Mata tajam. Bibir mungil. Dan kulit agak cokelat. Kekasihku yang setiap dulu aku terlambat menemuinya, selalu mengomel tak karuan: “Jika kau terus terlambat, bagaimana kelak bekerja? Jangan-jangan kau akan dipecat. Terus mencari kerja lagi. Lalu, aku yang sudah jadi istrimu, akan bagaimana?”

Akan bagaimana? Tentu saja aku mesem. Bayangkan, di zaman yang merdeka, kok masih saja ada yang waswas dengan kata akan bagaimana. Lagian, apa Tuhan begitu kejam. Sampai-sampai membiarkan ciptaan-Nya pada pusaran kata akan bagaimana itu? Rita, Rita, betapa lugunya dirimu. Tapi, meski begitu, (waktu itu) betapa aku cintai kau. Aku cintai dengan seluruh tubuh dan jeroanku. Juga dengan seluruh bayanganku.

Baca juga: Dua Cerita dari Si Tuan Pengen Tahu Kepada Si Tuan Resep – Cerpen Mardi Luhung (Koran Tempo, 22-23 April 2017)

Bayanganku yang gampang mulur-mungkret. Tergantung dari mana cahaya menyorot. Jika dari atas, akan mungkret. Tapi, jika dari depan atau belakang, akan mulur. Semulur lengan kawanku, Sahib, yang menjangkau motor Pak Kades. Tapi ketahuan. Dan karena kasihan, maka aku yang mengakuinya. Pak Kades kaget. Sebentar. Terus memaafkan. Tapi keluargaku malu. Dan aku pun memutuskan untuk pergi. Pergi dari kampung. Mengembara. Mengembara ke kota-kota yang beraneka ragam.

Advertisements