Cerpen Selni Sanjaya (Rakyat Sumbar, 03-04 November 2018)

Menyentuh Ujung Langit ilustrasi Rakyat Sumbar.jpg
Menyentuh Ujung Langit ilustrasi Rakyat Sumbar 

AKU masih mendekap erat diary biru muda itu. Air mataku terus berurai mengingat kejadian tadi. Aku tak mampu membantah ibu sedikitpun padahal aku yakin bahwa kali ini ibu salah. Ibu yang biasanya selalu jadi orang paling kupercaya, ibu yang selalu memberiku dukungan, ibu yang selalu menyemangati aku, dan ibu yang selalu benar menurutku, kali ini ibu salah. Ya, ibu salah. Aku yakin ibu salah. Tapi kenapa ayah ikut-ikutan salah?

Ayah yang selalu mengerti keinginanku, Ayah yang selalu ada saat aku menoleh ke belakang, bahkan Ayah yang selalu percaya bahwa aku gadisnya yang bisa membanggakan. Lantas kenapa saat ini pun Ayah salah? Tidak hanya itu, Kakak laki-lakiku yang sudah seperti sahabat bagiku, tempat aku mencurahkan isi hati selain pada diary biru itu pun ikut salah.

Kenapa semua anggota keluarga yang aku sayangi tidak ada yang mempercayaiku? Mereka tak percaya bahwa aku bisa menjadi seorang dokter yang sering mereka lihat di TV hitam putih milik Pak Jon, tetangga sebelah. Ya, karena kami belum mampu membeli TV, jangankan membeli TV, untuk makan sehari-hari saja kami harus mampu mengelola kebun kelapa di belakang rumah untuk dijadikan sesuap nasi.

Baca juga: Kedai Tek Opet dan Ipul – Cerpen Yulputra Noprizal (Rakyat Sumbar, 29-30 September 2018)

Ibu yang biasanya mengumpulkan daun-daun kelapa untuk dirajutnya menjadi sapu lidi, Ayah mengumpulkan buah kelapa untuk dijual di pasar kampung kami, sedangkan kakak biasanya membantu Ayah, sedangkan aku? Aku hanya mampu bermimpi yang semua orang tak percaya bahwa aku dapat menggapainya. Dengan kehidupan aku yang seperti ini, siapa yang percaya bahwa suatu saat aku akan menjadi seorang dokter yang hebat, tak satu pun dari mereka yang percaya.

***

Advertisements