Cerpen Delvi Yandra (Haluan, 28 Oktober 2018)

Yang Ditinggalkan ilustrasi Istimewa.jpg
Yang Ditinggalkan ilustrasi Istimewa

“Apa yang kau mainkan tadi?” wanita itu bertanya.

“Abandoned Love [1],” katanya seraya menyandarkan banjo itu di lengannya.

Wanita itu menjatuhkan pantatnya ke sebuah bangku. Ia tersenyum, mencoba berusaha memberi perhatian pada lelaki itu. Di sekelilingnya hanya ada bangku-bangku kosong, lampu sorot yang telah padam, dan desir angin dari jendela dekat panggung. Sementara, di sudut lain, cahaya berpendar dari balik pintu. Sehingga membuat perhiasan yang melekat di jari, lengan dan leher wanita itu berkilauan. Tidak hanya satu, setidaknya ada dua atau tiga perhiasan menempel pada satu bagian tubuhnya. Juga tasnya yang berwarna perak keemasan dihiasi batu-batu kristal yang tersusun rapi, tentunya, harga tas itu sudah pasti mahal.

Sejak tadi, memang perhatian penonton jatuh kepadanya. Di tengah lagu, saat lampu sorot menimpanya, tak ada yang lebih cemerlang selain pantulan cahaya dari perhiasan di tubuhnya. Maka, makin tersohorlah ia di dalam gelap gempita.

Baca juga: Rumah Pemusnah Kenangan – Cerpen Fitri Manalu (Haluan, 21 Oktober 2018)

Lelaki itu, Ruldarwis, membalas perhatiannya dengan tatapan yang dingin. “Aku tidak berharap akan berakhir seperti ini. Bukankah kita sudah saling setuju?”

“Kapalku akan berangkat besok pagi. Ada hal yang perlu kita luruskan,” ucapnya seraya menyilangkan kaki.

Ruldarwis berdiri, “sudah tidak ada lagi!” Ia menyulut kenangan yang pahit dan membiarkan dirinya terperangkap dalam percakapan yang konyol. Bahkan disaat kehidupannya terlanjur buruk, wanita ini masih terus memberondongnya dengan hal-hal yang sangat dibencinya. “Pergilah. Sampaikan salamku pada Abe…”

Advertisements