Cerpen Muhammad Daffa (Radar Banjarmasin, 28 Oktober 2018)

Kyai Juhri ilustrasi Radar Banjarmasinw.jpg
Kyai Juhri ilustrasi Radar Banjarmasin 

Orang-orang Dusun Atas telah mengetahui selenting kabar yang berhembus dari mulut gerombolan samun yang menamakan diri mereka Pasukan Angin, ketika senja redup dan azan berkumandang di seluruh surau dusun itu. Kyai Juhri, panutan yang selama ini dibangga-bangga segenap warga, harus ditumpas karena dituding Pasukan Angin telah melakukan persekutuan dengan Tentara Rakyat yang datang dari Utara. Orang-orang kiri mereka bilang. Kaum setan. Pengkhianat bangsa. Penista agama dan tuhan.

Di maghrib yang berkabut itu, Pasukan Angin mengepung rumahnya. Ia masih berada di dalam rumah untuk persiapan menuju surau ketika salah satu anggota dari kelompok penyerang mendobrak pintu. Tentu saja kyai tercekat. Bukan karena apa-apa. Seutas tasbih berbulir hitam arang tampak digenggam orang itu. Dan kyai sudah bisa menebaknya. Seseorang mencoba khianat dengan melucuti jimat yang menyimpan seluruh kesaktiannya. Ia menyerah. Dan tertunduk pasrah ketika gerombolan Pasukan Angin mengikat kedua tangannya, menggiring Kyai Juhri ke rimbun belantara di ujung Dusun Atas.

Tepat di tengah malam yang dingin, para lelaki yang ronda memastikan dusun tak diserbu kelompok berbahaya mana pun, mendengar lengkingnya. Lengking pesakitan yang digorok lehernya. Di malam itu kami benar-benar yakin, Kyai Juhri, yang selama ini dibangga-bangga orang sedusun, telah dilucuti Pasukan Angin di rimbun belantara. Tanpa seorang pun berani menyelamatkannya. Karena ia kiri. Karena ia nyatanya berjimat. Menyekutukan tuhan, membuang muka dari larangan agama yang jelas-jelas mengharamkan benda itu. Dan pembantaian itu, pembantaian yang tak akan pernah bisa kulupakan.

Aku melihat mayat Kyai Juhri dilemparkan ke Sungai Batang Kembang setelah Pasukan Angin menggorok batang lehernya. Awalnya mereka ragu untuk membuang mayatnya ke sungai. Mengingat seorang dukun mumpuni dan murid Kyai Juhri pernah berpesan agar jangan membuang mayatnya ke sungai. Sebab kesaktiannya akan kembali dan itu membuatnya hidup seperti sedia kala. Namun, seorang dari anggota Pasukan Angin, Ngarai Lamtana, mendesak kawan-kawannya untuk tidak memercayai takhayul yang diciptakan dukun-dukun. Atau kita sama saja dengan mereka yang kiri, katanya. Maka dengan kepastian dan doa-doa, mayat Kyai Juhri mereka lempar ke Sungai Batang Kembang. Dalam sekejap, mayat Kyai Juhri telah hanyut terbawa arus.

Advertisements