“Kita tidak bisa menggeneralisir semua hal hanya dari tampilan fisik yang sampai pada mata. Indra bisa menipu. Sendok yang dimasukkan ke dalam gelas berisi air bisa kelihatan bengkok, padahal tidak. Wajah lebam atau benjol belum tentu habis dianiaya. Boleh jadi baru selesai operasi wajah.”

Aku terkekeh. Ingatanku langsung meloncat pada seorang perempuan yang diberitakan telah dianiaya hanya karena wajahnya lebam-lebam, padahal setelah ditelisik, menurut pengakuannya, ternyata baru selesai operasi plastik. “Nyatanya,” kataku sambil melirik bentuk matanya yang indah, “kita lebih sering tertipu oleh apa yang sampai pada mata. Aku setuju denganmu. Apa yang terlihat tidak selalu seperti itu.”

Baca juga: Seperti Pagi – Cerpen Adi Zamzam (Republika, 05 Agustus 2018)

“Indra bisa menipu, tapi akal tidak.”

“Tunggu, tunggu, tunggu…” Aku memotong kata-katanya. “Jika semua orang berpikir seperti itu maka tidak akan ada orang yang percaya pada indra. Manusia akan berbondong-bondong menuhankan akal. Apa yang tidak sesuai dengan akal akan diragukan kebenarannya.”

“Indra dan akal hanya alat untuk memastikan kebenaran. Apakah benar laut berwarna biru? Jangan-jangan warna laut itu bukan yang sebenarnya. Yang sebenarnya, barangkali, adalah pantulan warna langit.”

Baca juga: Riwayat Haji – Cerpen Zainul Muttaqin (Republika, 12 Agustus 2018)

Aku mengangguk-angguk. Kami kembali menikmati pertunjukan. Kupikir akan segera selesai, tapi ternyata tidak. Anehnya, pikiranku tidak bisa lepas dari perempuan itu. Selain memiliki wajah cantik dan penge tahuan luas, dia juga cukup mudah diajak berdiskusi, meskipun sebenarnya aku tidak terlalu suka berdiskusi. Semakin memikirkannya pikiranku melambung semakin jauh. Terutama tentang seorang perempuan yang selalu duduk di dekat jendela dan kulihat bersemayam dalam dirinya.

“Kau masih berpikir bahwa aku mengingatkanmu pada seseorang?” Dia menoleh, memastikan aku mendengar kata-katanya, lalu memalingkan wajah ke panggung.

Aku tidak bisa untuk bilang tidak. “Bukan hanya mengingatkan, tapi kau mirip sekali dengannya.”

“Sudah kubilang, wajahku pasaran. Yang memiliki bentuk wajah sepertiku pasti banyak, tidak hanya aku.”

Advertisements