Cerpen Latif Fianto (Republika, 28 Oktober 2018)

Pertunjukan Monolog ilustrasi Rendra Purnama - Republika.jpg
Pertunjukan Monolog ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Aku meninggalkan rumah menjelang Isya. Jalanan sangat ramai dan sesak, padahal bukan akhir pekan. Dari dua arah berlawanan, yang ditandai oleh garis putus-putus warna putih, kendaraan bergerak seperti kura-kura berlari di atas pasir. Aku benci kondisi jalanan yang seperti ini. Namun, demi menyaksikan Nor Agus, penyair terkenal yang kukagumi, membacakan puisinya selepas pertunjukan monolog, aku rela menembus sesak kendaraan dan segesit mungkin mencari ruang untuk menyalip.

Sebenarnya, tidak butuh waktu lama untuk sampai di lokasi pertunjukan. Tetapi karena macet, penyakit yang kerap menjangkiti kota ini, aku butuh waktu setengah jam untuk sampai. Acara pertunjukan diletakkan di halaman depan Gedung Kebudayaan, di bawah tenda yang dipasang khusus dan sementara. Pertunjukan sengaja diletakkan di luar karena ruang utama gedung digunakan untuk pameran buku.

Baca juga: Api Kenangan – Cerpen Latif Fianto (Radar Banyuwangi, 02 September 2018)

Aku duduk di teras depan Gedung Kebudayaan, tidak jauh dari pintu utama. Seorang perempuan bertubuh ramping mengenakan ID card yang digantungkan di leher berdiri di depan pintu utama. Seorang perempuan lain, bertubuh gempal, mengenakan kaus warna putih, mondar-mandir menyiapkan acara pertunjukan yang sebentar lagi akan dimulai. Gedung Kebudayaan, seperti namanya, adalah sebentuk bangunan tradisional dengan kontur pagar menyerupai bangunan kerajaan-kerajaan masa lampau.

Di depan panggung pertunjukan disediakan kursi, tapi aku memutuskan untuk tidak duduk di sana. Terlalu dekat. Aku memilih duduk di belakang karena dari sana aku bisa memperhatikan gerak-gerik setiap pengunjung yang datang, apakah mereka datang karena benar-benar ingin menonton pertunjukan monolog atau hanya ingin menghindari sepi dan kejenuhan-kejenuhan.

Advertisements