Cerpen Sungging Raga (Tribun Jabar, 28 Oktober 2018)

Mengukur Perpisahan ilustrasi Wahyudi Utomo - Tribun Jabar.jpg
Mengukur Perpisahan ilustrasi Wahyudi Utomo/Tribun Jabar

MALAM belum lunglai ketika aku tiba di Stasiun Cipeundeuy dengan kereta Malabar. Entah mengapa, seperti ada hubungan yang begitu dekat antara diriku dan stasiun ini. Aku bahkan masih hafal letak loket, tempat parkir, hingga warung nasi di luar stasiun. Tapi aku tak bisa menceritakannya lebih dari itu.

Pemandangan di luar jendela telah buram, hanya putih cahaya lampu yang tak memberikan bentuk-bentuk apa pun. Terdengar hiruk-pikuk di luar. Banyak penumpang yang turun untuk menyalakan pabrik asap dalam tubuhnya. Biasanya kereta memang berhenti lama di Stasiun Cipeundeuy, entah karena tunggu bersilang dengan kereta lain, atau karena dilakukan pemeriksaan rem. Sebab, di jalur terjal berbukit ini, segalanya begitu rawan seperti kenangan.

Baca juga: Argo Senja – Cerpen Sungging Raga (Kedaulatan Rakyat, 16 September 2018)

Sebagai seorang penulis fiksi, aku terbiasa mendramatisasi sesuatu. Terkadang kubayangkan diriku seperti Kawabata, yang bisa jatuh cinta pada perempuan yang tidak pernah ada. Namun sebenarnya aku tidak setolol itu. Aku punya kekasih, nun jauh di Surabaya, namanya Nalea, yang mungkin sekarang sedang tidur dengan lelaki yang berbeda. Bagiku cinta telah lebih remeh dari udara yang terhirup tebalnya cuaca. Di masa sekarang, cinta lebih mudah dari harga promosi di supermarket. Cinta telah lama usang, ketika kau menyadari bahwa berapa banyak omong kosong diciptakan manusia di dalamnya.

Advertisements