Cerpen Ismul Farikhah (Suara Merdeka, 28 Oktober 2018)

Lelaki Itu Memilih Pintu Berbeda ilustrasi Suara Merdeka.jpg
Lelaki Itu Memilih Pintu Berbeda ilustrasi Suara Merdeka 

Seorang laki-laki paruh baya berjalan mendekati sebuah pintu. Dia sudah mendapatkan tiket untuk masuk melewati pintu itu. Pintu itu sangat megah, dengan segala ornamen apik dan menawan. Jika seseorang melewati pintu itu, ketika keluar dari sana akan mendapatkan gelar. Itulah cita-cita banyak orang.

Sungguh, sangat luar biasa ruangan di balik pintu itu. Bayangkan. Konon, ketika seseorang sudah masuk ke dalam, akan mendapat balasan sesuai dengan perbuatan sebelum masuk. Ada yang mendapatkan hal-hal menyenangkan. Namun ada pula yang berkali-kali sengsara. Orang-orang yang sudah keluar dari ruangan itu sering menceritakan kejadian-kejadian yang ganjil dan tak wajar. Istimewa pula, ruangan itu dapat mengubah watak manusia. Ada orang-orang yang makin merunduk, merendahkan hati, setelah keluar dari sana. Namun ada pula yang makin sombong dan angkuh.

Laki-laki paruh baya itu terlihat semringah nan cerah. Senyum di bibirnya terus mengembang indah. Berbeda dari senyum keseharian yang berat, ketika ia terpaksa tersenyum kepada orang-orang yang dia cintai, padahal dia mesti berpikir keras bagaimana bisa makan esok hari. Dia gunakan kaki sebagai kepala. Kali lain, dia gunakan kepala sebagai kaki. Begitulah yang selalu dia lakukan.

Baca juga: Maria dan Mario – Cerpen Mashdar Zainal (Suara Merdeka, 14 Oktober 2018)

Kini, lihatlah pakaiannya. Sungguh rapi dan bersih. Warna putih itu menambah pangling orang yang mengenal dia. Berbeda dari pakaian keseharian yang penuh lumpur dan peluh karena dia selalu berkubang di sawah.

Pintu itu makin dekat. Degup jantung lakilaki paruh baya itu pun makin kencang. Sebentar lagi ia akan melewati bersama orang-orang berbaju putih lain yang berkelompok-kelompok. Tampak juga tetangganya dalam sebuah kelompok.

***

Advertisements