Cerpen Asmadji As Muchtar (Kedaulatan Rakyat, 28 Oktober 2018)

Kiai Maimun ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Kiai Maimun ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat 

KIAI Maimun tergolong ulama paling tua. Santri yang pernah mondok di pesantrennya jumlahnya jutaan yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Mereka juga sudah dikenal di daerah masing-masing sebagai kiai dan mengajar di pesantren sehingga juga punya banyak murid. Karena itu wajar saja jika menjelang pileg dan pilpres seperti sekarang kandidat-kandidat bergantian datang minta doa restu kepada Kiai Maimun.

Meski mengaku netral secara politis, Kiai Maimun tetap saja bersedia menerima kedatangan kandidat-kandidat yang hendak bertarung di pileg dan pilpres. Baginya, semua kandidat yang datang di rumahnya adalah tamu yang tak boleh ditolak. Sebaliknya, mereka sebagai tamu harus dihormati, karena menghormati tamu itu bagian dari iman.

Tapi Kiai Maimun sering merenung sendirian di dalam kamarnya, setiap habis menerima kandidat yang bertamu di rumahnya. Renungannya tentang doa restu yang telah diminta mereka. Padahal, mereka semua ingin menang. Sedangkan keinginan mereka itu mustahil bisa terwujud, karena dalam pileg dan pilpres pasti ada yang kalah dan ada yang menang.

Baca juga: Sehabis Pilkada – Cerpen Asmadji As Muchtar (Kedaulatan Rakyat, 08 Juli 2018)

“Doa restuku pasti saling beradu atau berbenturan di hadapan Tuhan,” gumam Kiai Maimun. Dadanya terasa agak sesak. Dibayangkannya Tuhan tidak mengabulkan doa restunya untuk kandidat-kandidat karena urusan demokrasi itu sepenuhnya hak rakyat. Bahkan selama ini ada pepatah bilang suara rakyat adalah suara Tuhan. Artinya, Tuhan sepenuhnya menyerahkan urusan demokrasi kepada manusia.

Kiai Maimun lalu teringat ayat suci yang menganjurkan manusia untuk berdoa kepada Tuhan. Bahkan Tuhan pun menegaskan: Berdoalah kepadaku, maka aku akan mengabulkan. Masalahnya, kalau doa harus diadu dengan doa, apakah semua akan dikabulkan?

Advertisements