Cerpen Erwin Setia (Media Indonesia, 28 Oktober 2018)

Kesetiaan Adalah Ketabahan Menunggu ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia.jpg
Kesetiaan Adalah Ketabahan Menunggu ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

KESETIAAN, katamu, adalah ketabahan menunggu. Dan itulah yang kulakukan.

Di sini, bangku yang kududuki telah berlumut, daun-daun berguguran, kering, mati, dan tumbuh kembali. Pepohonan yang ada di seberangku, dulu, masihlah seukuran anak kecil. Kini tinggi memancang dengan dahan-dahan dan akar yang semakin lebar dan kekar. Jalanan berbatu itu sudah licin beraspal. Rawa-rawa dengan sebuah sungai kecil di tengahnya telah mewujud rumah-rumah yang saban tahun kebanjiran. Rumah pohon yang sempat kau buat untukku, sudah lama dirobohkan. Sebuah menara satelit datang menggantikan.

Selebihnya kuyakin masih banyak hal-hal telah berubah. Namun, sejauh mataku memandang, hanya itulah yang dapat kulihat.

Baca juga: Boneka Terakhir Seli – Cerpen Erwin Setia (Koran Tempo, 20-21 Oktober 2018)

Tidak seperti hal-hal di sekelilingku, aku sama sekali tidak berubah.

Pakaian yang kukenakan masih sama. Kaus putih polos lengan pendek dengan cardigan biru laut membalutnya. Rok sepan hitam yang kukenakan pun masih selutut, tidak berkurang atau bertambah panjang sesenti pun. Payung ungu bermotif bunga-bunga yang kau hadiahkan pada hari ulang tahunku ke-20 juga masih bersandar di tepi kursi dalam keadaan setengah mengembang. Mirip bunga yang kuncup. Telapak tangan kananku pun tetap mengatup. Menggenggam sesuatu yang kau titipkan.

“Jaga bunga ini sampai aku kembali,” katamu. Sebelum kau membalikkan badan lalu belum kembali hingga kini.

Tapi aku percaya kau akan kembali.

Advertisements