Cerpen M. Arif Budiman (Radar Banyuwangi, 28 Oktober 2018)

Hikayat Kota Kabut ilustrasi Radar Banyuwangi.jpg
Hikayat Kota Kabut ilustrasi Radar Banyuwangi 

SORE itu, langit merah magenta. Kota Kabut yang biasanya tenang mendadak kacau setelah tiba-tiba bumi menggigil hebat. Tanah-tanah retak dan amblas. Gedung-gedung runtuh. Rumah-rumah luluh. Pohon-pohon tercerabut dari akarnya. Namun, Tuhan masih menunjukkan kuasa-Nya pada beberapa masjid yang masih berdiri kukuh.

Malam gelap. Segalanya pekat. Bulan merah saga menjadi saksi bagi orang-orang yang didera lara. Rintih mereka menyayat hati. Lolong orang-orang yang terjepit puing-puing bangunan saling bersahutan. Memberi kabar. Bertanya nasib. Bertanya umur dan kematian.

Tengah malam. Di sebuah shelter tak jauh dari puing-puing rumahnya, Sobari menggigil menyaksikan ratusan cahaya putih menyembul dari balik puing-puing. Cahaya-cahaya putih itu berkumpul menjadi satu di atas kubah sebuah masjid. “Apakah mereka ruh orang-orang yang mati tertimbun di bawah sana,” batinnya. Lambat laun ia tak kuasa melihat fenomena itu. Lalu bersembunyi di balik sarungnya yang lusuh.

Baca juga: Usia Usai – Cerpen Kunglhe Fhreya (Radar Banyuwangi, 21 Oktober 2018)

Esok hari. Jerit tangis kembali membubung di langit Kota Kabut. Orang-orang sibuk mencari sanak famili yang tercerai berai. Tak terkecuali Sobari. Selepas subuh, ia sibuk menyingkirkan puing-puing rumahnya yang ambruk untuk mencari neneknya.

Peluh Sobari beranak-pinak. Hanya berbekal tangan kosong, ia terus menyingkirkan puing-puing rumah. Ia sangat berharap neneknya masih bernapas, meski ia tak begitu yakin. Cukup lama berselang, setelah Sobari menyingkirkan sebuah lemari pakaian, ia menemukan neneknya dalam posisi telungkup di atas sajadah. Kedua tangannya mendekap erat Alquran. Segera Sobari membalikkan tubuh neneknya. Namun sayang, nyawa nenek sudah terlepas dari raganya.

Advertisements