Cerpen Zen Hae (Kompas, 28 Oktober 2018)

Enam Kisah ilustrasi I Wayan Suja - Kompas.jpg
Enam Kisah ilustrasi I Wayan Suja/Kompas

Lompatan Pertama

Jika sinar matahari pagi jatuh dengan kemiringan 34°, maka berapakah panjang bayangan tubuh seseorang? Berapa lebih panjang bayangan itu daripada tubuh yang menjadi sumbernya?

Sudah lama ia tergoda oleh pertanyaan yang mirip soal matematika ini. Sebab, setiap kali melintasi alun-alun kota pada pagi hari, sembari sesekali menoleh ke kiri, ia menyaksikan bayangannya seperti ditarik sehingga tampak rusak anatominya. Lebih kurus, tipis, sedikit melengkung.

Baca juga: Mangkok Merah – Cerpen Zen Hae (Koran Tempo, 30 Mei 2010)

Bayangannya merunduk sebagaimana ia merunduk—demi mencermati setiap jengkal tanah untuk menemukan, misalnya, sisa makanan atau puntung yang ditinggalkan mereka yang begadang tadi malam, tetapi kemerundukannya itu bukanlah kemerundukan ia yang tengah dirundung masalah. Rundukan itu terkesan tidak peduli kepada semua hal.

“Tak risau barang sedikit,” ia menggerutu. Maka setelah bosan menduga-duga, ia berhenti. Dalam kemiringan sinar matahari yang kini 45° ia merasakan panas membakar punggungnya. Ia menilik panjang bayangannya. Hampir dua kali, ia mengira. Ia bertolak pinggang, si bayangan juga. Ia meludahi kepala bayangannya, tetapi yang bersangkutan hanya diam. Lagi—tetap diam. Tetapi, sesaat kemudian ia menyaksikan bayangannya mulai bergerak.

Baca juga: Tiga Kisah Pendek – Cerpen Zen Hae (Koran Tempo, 22 Agustus 2010)

Demikianlah, pembaca yang budiman, dari hamparan rerumputan tempatnya berbaring—karena tengah asyik mandi sinar matahari—si bayangan menyaksikan lelaki ringkih itu menggigil dan memegangi perutnya. Untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya sebagai bayangan ia mesti melompat sebab, jika tidak, ia akan tertimpa oleh tubuh di depannya itu.

Advertisements