Cerpen Beni Setia (Jawa Pos, 28 Oktober 2018)

Balung Kere ilustrasi Budiono - Jawa Pos.jpg
Balung Kere ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

(Bagian 1)

DI sebelah kanan jembatan kereta Balung Kere, yang menyeberangkan rel yang merentang lurus dan melajukan kereta dari timur ke barat, tersiletak kuburan rahasia—yang tidak bernisan dan tak diberi tetenger nama. Hanya ditandai pohon kiara, yang setelah lima puluh tahun menjadi besar, tinggi, rimbun, dan menaungi pangkal palung dangkal sepanjang tujuh puluh tujuh meter dari jembatan kereta, ke hilir, ke jembatan jalan antar kecamatan di utara. Tegakan berdedaunan rimbun yang menaungi kolong jembatan kereta Balung Kere dalam remang—mengesankan pagi selalu kekal sampai tersentak dan buru-buru menarik senja untuk membawakan kelam malam.

Tapi, orang-orang kampung tahu: siapa yang telah dikuburkan diam-diam di situ. Bahkan kenapa ia dikuburkan diam-diam, bagaimana dikuburkannya, dan siapa yang dimintakan pertolongannya untuk menguburkan si yang dirahasiakan.

Ada tiga orang, yang dengan bersumpah darah berjanji akan tutup mulut, meskipun setelah dua puluh tahunan ada yang berani diminta bersaksi. “Tapi,” kata Argadil, yang mengesankan ia sedang mewakili yang lainnya, “kalau keadaan telah memungkinkan…” Persyaratan yang membuat semua orang kampung menarik napas lega, bersepakat untuk mencatat isyarat itu sebagai rahasia bersama dalam bungkam si orang tak berdaya.

Baca juga: SANTA ZOMBIE (Atau: Perasaan dari yang Mati Disiksa) – Cerpen Beni Setia (Koran Tempo, 11-12 Agustus 2018)

Karena itu, (dulu) diam-diam mereka menyelenggarakan salat mayat—dengan si dana yang disiapkan Sukrojendra—, bahkan selalu menyebut namanya bila mereka ada menyelenggarakan slametan apa saja—sesuai adat Jawa sesuai rujukan tradisi Islam di pedalaman.

Advertisements