Cerpen Haryo Pamungkas (Koran Tempo, 27-28 Oktober 2018)

Kota Mayat ilustrasi Koran Tempo.jpg
Kota Mayat ilustrasi Koran Tempo 

Minggu lalu, ada bangkai anjing tergeletak di pinggir jalan dekat pematang. Dan hari ini lagi, tapi bukan anjing. Mayat seorang laki-laki ditemukan mengambang di sungai dengan tangan dan kaki terikat. Awalnya mungkin mengerikan. Namun, di tempat ini, karena begitu banyak mayat tergeletak begitu saja hampir setiap minggu, kejadian ini pun akhirnya dianggap biasa.

“Mayat manusia ternyata…”

“Lagi?”

“Ya.”

Begitu kiranya obrolan orang-orang. Singkat dan sederhana. Wajah mereka datar, tidak menggambarkan simpati dan kengerian. Barangkali di tempat lain orang-orang bakal heboh, dan akan timbul dugaan macam-macam. Polisi bakal langsung melakukan penyidikan. Tapi itu tidak terjadi di tempat ini. Biasa saja, bahkan polisi hanya mendeham dan menggeleng-gelengkan kepala.

Baca juga: Gadis Kecil Bernama Alenia – Cerpen Haryo Pamungkas (Media Indonesia, 07 Oktober 2018)

“Tuan-tuan dan Nyonya tidak perlu risau, kita sedang bekerja keras mengatasi ini semua. Jadi tenang, semua cukup tenang saja. Minggu depan semoga tak ada mayat lagi karena sejujurnya kuburan di tempat kita ini juga mulai penuh. Jadi sebisa mungkin jaga diri Tuan-tuan dan Nyonya, dan satu lagi; banyaklah berdoa dan jangan lupa makan.”

Ya, begitulah kata pejabat di kota ini melalui radio.

Namun ternyata kejadiannya tak sesederhana itu. Karena hampir setiap minggu selalu ditemukan mayat, entah itu manusia atau makhluk lainnya, tempat ini akhirnya jarang dikunjungi orang-orang dari luar. Banyak perusahaan bangkrut dan sebagian orang mesti jerih payah berkebun untuk bisa makan. Dan akhirnya begitulah, terembus kabar bahwa tempat ini dinamai Kota Mayat oleh orang-orang luar.

Advertisements