Cerpen Kunglhe Fhreya (Radar Banyuwangi, 21 Oktober 2018)

Usia Usai ilustrasi Radar Banyuwangi

“PASTI ia lahir dari orang tua gila! Mana ada orang memberi nama anaknya dengan nama: Usia Usai. Gila pasti.”

Orang boleh berkomentar apa saja, namun namanya tetap Usia Usai.

Apalah arti sebuah nama. Namun, ungkapan tetap tinggal ungkapan. Namamu boleh tidak mengandung arti daripada mengandung arti jelek. Macam si Usia Usai, itu! Kalau boleh kuartikan nama itu kan artinya umur yang selesai atau habis alias kelar idup alias mampus.

***

Kau pasti pernah dengar cerita tentang anak yang sewaktu kecil sakit-sakitan. Diobati ke sana kemari tidak kunjung sembuh. Para tua bilang suruh ganti nama si anak biar lantas sembuh. Di Jawa orang menyebut kabotan jeneng (keberatan nama). Dan betul, setelah diganti namanya, padahal tidak diobati, eh tahu-tahu sembuh sendiri.

Baca juga: Jampi-Jampi Warisan Leluhur – Cerpen Mawan Belgia (Radar Banyuwangi, 14 Oktober 2018)

Di dunia ini di mana pun manusia berada sepertinya selalu memiliki adat yang sama yakni nama panggilan. Kalau orang beradab memang menggunakan nama panggilan sebagai bentuk ungkapan rasa sayang. Seperti panggilan: ayang, bebeb, hani, sweetheart, pipi, mimi, endut, ius, embem. Namun ada jenis nama panggilan yang menjurus pada nama julukan yakni: Kaji Gedhe (karena haji bertubuh besar), Mbok Jamu (karena simbok jualan jamu), Mbok Peyek (karena jualan peyek). Dan yang paling sadis adalah nama panggilan yang mengarah pada nama hinaan, cacian. Semisal: Joni Mukri (munyet kriting) hanya karena si Joni berambut kriting, Nanang Jabrik hanya karena si Nanang rambutnya jabrik, Udin Peyot hanya karena si Udin dagunya sedikit mencong. Entah kenapa aku merasa ini adalah kesadisan yang telah melembaga. Betapa tidak, yang berujar merasa tidak berdosa dan yang diberi panggilan merasa tidak dianiaya. Biasa saja. Sudah semacam perempuan yang memang musti berdarah setiap bulannya. Sakit tapi tidak boleh merasa sakit. Terima saja dan sudah. Semacam kesakitan yang wajar. Huft, benar-benar kesadisan yang melembaga. Tapi tidak bagi si Usia Usai. Ia biasa dipanggil: “Hei”. Malas sudah orang mengingat namanya.

Orang boleh membenci siapa pun di dunia ini. Namun jangan sampai membenci diri sendiri. Usia Usai pernah sangat membenci dirinya sendiri. Karena tiap kali ia memproklamirkan diri hendak mengganti nama, besoknya ia mendadak demam tinggi. Sampai akhirnya ia menyerah. Sakit tapi tidak boleh merasa sakit. Terima saja dan sudah. Sudah. Dan benar-benar sudah.

Advertisements