Cerpen R. Giryadi (Jawa Pos, 21 Oktober 2018)

Tangan Ibu ilustrasi Budiono - Jawa Posw.jpg
Tangan Ibu ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

SETIAP kali menginjakkan kaki di rumah ibu, hati saya bergetar. Melihat halaman yang tertata rapi dengan berbagai macam bunga dan juga empon-empon yang ditanam di ujung halaman, teras rumah yang bersih dari debu, terasa tintrim; memanjakan mata dan menenangkan batin.

Teras rumah yang masih berubin semen, dengan warna keabu-abuan, menawarkan kesejukan. Di satu sisi teras ada dua sangkar burung perkutut, kesayangan bapak. Meski bapak telah tiada, ibu masih merawat burung itu dengan baik.

“Burung bapakmu kudu dirawat agar teras rumah tidak sepi,” kata ibu sekian hari dari kepergian bapak. Dan, aku merasakan ucapan itu sebagai ungkapan cintanya yang tak pernah pudar.

Memasuki rumah rasanya seperti masuk surga. Semua serba tertata rapi. Meski semua perabotan sudah begitu tua, tak satu pun debu menempelnya. Ubin dari semen, mengilap, dan terasa dingin.

Belum lagi, masakan ibu, yang bikin cleguken, ingin segera mengecapnya. Baunya selalu menggoda nafsu makan. Ibu memang lihai sekali memasak. Keenakan masakannya melebihi jargon-jargon iklan di TV. Tak tertandingi. Bila memasak, sayur lodeh, rasa santannya terasa sekali. Santannya bisa meresap ke buah nangka muda hingga terasa gurihnya. Cita rasanya menjadi sempurna ketika rasa gurihnya bertemu dengan rasa pedas cabai. Hmm

Semua itu berkat ibu yang ringan tangan. Rasanya, seisi rumah ini tak ada yang tak pernah tersentuh tangan ibu. Hampir semuanya. Mulai tegalan belakang sampai pagar depan rumah, semua berkat tangan ibu. Ibu memang tak pernah diam. Apalagi setelah pensiun dari pegawai, tangannya seperti menjalar-jalar menggapai seluruh isi rumah yang dianggapnya tidak rapi.

Konsekuensi dari itu, tak ada barang yang berani kami sentuh. Tak ada barang perabotan rumah yang berani kami pindahkan. Semua kami biarkan persis seperti para pertapa, diam dalam ketenangan abadi.

Advertisements