Cerpen Martin Aleida (Kompas, 21 Oktober 2018)

Segulung Kertas Kecil di Ubi Rebus ilustrasi Daniel Nugraha - Kompas.jpg
Segulung Kertas Kecil di Ubi Rebus ilustrasi Daniel Nugraha/Kompas 

Dia duduk mencangkung di pelataran kamp itu. Bersama puluhan tahanan lain. Menunggu pembebasan. Bersandal jepit. Angin dan terik matahari menyentakkan debu ke mukanya. Dia tak peduli. Di antara pahanya, terapit buntalan sarung pelekat yang luntur dibasuh waktu. Di dalamnya ada sehelai baju tetoron biru lengan pendek, kenang-kenangan dari kawan yang dibuang entah ke penjara mana, beberapa tahun lalu. Juga sepotong celana pendek hitam yang ditemukannya hanyut, dan dijangkaunya dari arus ketika kerja paksa di Sungai Silau.

Itulah harta yang dia punya setelah tiga belas tahun ditendang dari kurungan yang satu ke bui yang lain. Kalau tamsilnya lubang jarum, lubang yang dia lalui sepanjang hidupnya adalah lubang jarum berduri. Berapi.

Setelah disekap sehari-semalam, dia, dan beberapa orang, dijajarkan di tubir Sungai Ular, tiga belas tahun lalu. Kedua tangan mereka disilangkan di belakang, diikat pelepah pisang. Dibentak supaya menghadap ke sungai. Disusul dentuman mesiu yang menghambur, menerjang sampai jauh. Menerabas pohon-pohon karet yang jadi saksi, tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Peluru mendesing panas di kupingnya. Jantungnya gemuruh, tetapi dia tak terluka.

Baca juga: Tanah Air – Cerpen Martin Aleida (Kompas, 19 Juni 2016)

Sekelebat sempat dia dengar degup dan desis peluru menghantam kepala kawan di sebelah. Dari sarang otak itu, darah memercik ke bahunya, dan tubuh itu tumbang menimpa bahunya. Dia biarkan tubuh itu menindih. Berdua mereka tercebur, dilarikan air yang memerah. Yang satu sempat menggelepar memusar air, saat ajal menjemput, kemudian dibalun arus entah ke mana. Sementara dia menenggelamkan diri, menyerah pada air hendak dibawa ke mana saja. Sesekali, dia mengapungkan hidung untuk menyambung nyawa. Dia digiring air, dan mendamparkannya di mulut muara.

Advertisements