Cerpen Fitri Manalu (Haluan, 21 Oktober 2018)

Rumah Pemusnah Kenangan ilustrasi Istimewa
Rumah Pemusnah Kenangan ilustrasi Istimewa 

Kau mungkin memiliki kenangan yang sulit lekang seperti yang kumiliki. Salah satu kenangan itu berasal dari masa kanak-kanakku. Ketika pada suatu sore, ibu memberikanku sebatang sabun mandi dan berkata, “Mandilah dengan sabun ini agar kau dapat melihat laut. Bukankah kau selalu ingin pergi ke sana?” Setelah mengatakan hal itu, ibu lalu meringis, seperti menahan nyeri.

Kutatap ibu sedih. Lebam di pipi kirinya tampak baru. Ibu biasa menyebutnya sebagai “hadiah dari ayah”. Meski berulang kali kukatakan bahwa aku ingin sekali memprotes lelaki itu, tetapi ibu selalu melarangku untuk bicara dengan ayah. Ibu selalu menyuruhku bersabar seperti dirinya. Ibu tersenyum padaku. Kuterima sabun pemberian ibu dan berusaha mengalihkan perhatian dari lebam di pipinya.

Kata-kata ibu terbukti benar. Ketika buih-buih sabun berwarna biru itu memenuhi telapak tanganku, aku menghidu aroma asin laut. Semilir angin meniup anak rambut di keningku. Aku melihat debur ombak berkejaran dalam bak mandi seperti sebuah keajaiban. Aku merasa kegirangan karena akhirnya aku dapat melihat laut.

Baca juga: Semaun dan Kalung Kafan di Lehernya – Cerpen Ana Nurhasanah (Haluan, 01-02 September 2018)

Sejak saat itu, aku selalu menantikan waktu untuk mandi. Kadang-kadang, aku dapat melihat ikan-ikan yang berenang di antara karang atau peri laut yang melambaikan tangan padaku dari kejauhan. Menurutku, peri laut berniat mengajakku untuk tinggal bersamanya. Aku memang sangat ingin pergi ke laut, tetapi aku telah bersumpah takkan pernah meninggalkan ibu.

Ibulah yang kemudian meninggalkanku untuk selamanya. Suatu siang sepulang sekolah, aku melihat tubuh ibu telah terbujur kaku. Ibu dikelilingi orang-orang yang riuh menangisi kepergiannya. Anehnya, ayah justru tidak meneteskan air mata seperti orang-orang itu. Ia hanya duduk mematung di sisi ibu.

Advertisements