Cerpen Sengat Ibrahim (Media Indonesia, 21 Oktober 2018)

Naon ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesiaw.jpg
Naon ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

“Aku di sini, kemarilah Surliani. Cong Fahmi, jangan tinggalkan aku sendiri.”

Bila malam tiba, suara itu terus memanggil-manggilku dan Ibu. Suara tersebut berasal dari kamar kosong di samping kiri kamarku. Kamar yang belakangan menjadi hantu bagiku, begitu pun bagi Ibu. Pintunya tak pernah terbuka. Ibu sengaja menggemboknya dari luar rapat-rapat. Gorden hitam terpasang di seluruh jendelanya seolah malam dan siang tak pernah masuk ke sana.

Hanya ada tiga kamar di rumahku. Kamar di arah jam dua belas dari pintu masuk adalah kamarku. Sebelah kanannya, dapur. Di sebelah kiri itu, kamar Bapak dan Ibu.

Malam ini adalah malam ke-86 Ibu tidur bersamaku. Sejak seminggu setelah Bapak meninggal, Ibu pindah kamar. Sebagai anak laki-laki, aku ingin sekali berontak, mengusir Ibu. Tapi, mana mungkin aku tega melihat Ibu tidur di dapur atau di emper sendirian, apalagi di waktu malam.

Bila malam, rumah kami seperti tak berpenghuni. Itu terjadi setelah Bapak meninggal. Tak ada lagi jamuan makan malam. Aku dan Ibu selalu terburu-buru menjemput tidur di atas kasur.

Setiap malam, aku tak berani membuka mata sekadar melihat wajah Ibu. Ibu pun begitu. Terkadang, kami sampai lupa membaca doa sebelum tidur.

Suara yang memanggilku dan Ibu sangat akrab di telinga kami. Persis suara Bapak ketika dulu memanggilku, memerintahkan sesuatu. Tapi, Bapak sudah meningggal dan minggu depan adalah hari ke-100 beliau meninggalkanku dan Ibu.

“Aku di sini, kemarilah Surliani. Cong Fahmi, jangan tinggalkan aku sendiri.”

Suara itu lagi terdengar bila malam. Tak pernah berubah. Paling nadanya saja yang berbeda. Terkadang seperti suara tukang orator, kadang lirih sekali serupa angin menyapu dadar daun jati dini hari. Bagaimana pun nada suaranya, tetap saja mengerikan, dan selalu berhasil mengusikku dan Ibu. Kami sengaja pura-pura mendengkur. Supaya rasa takut tak semakin mengakar. Dan kami akan tetap demikian sepanjang malam. Tidur dengan kepura-puraan.

Aku dan Ibu sebenarnya bisa pindah rumah. Tapi, sebelum Bapak meninggal, beliau pernah berpesan, “Rawatlah rumah ini jika saya meninggal dan ingat jangan sampai kalian jual.”

Advertisements