Cerpen Majenis Panggar Besi (Suara Merdeka, 21 Oktober 2018)

Fatma dan Lidahnya ilustrasi Suara Merdekaw
Fatma dan Lidahnya ilustrasi Suara Merdeka 

Ketika mendengar kabar kematian Nenek Nahadim, tak ada yang cukup membekas dalam ingatan Fatma tentang neneknya itu. Ingatannya tentang Musi Rawas Utara, atau sering disingkat Muratara, hanyalah samar-samar. Seperti sebuah adegan dalam sebuah film lama. Hitam-putih dan dipenuhi bercak hitam di sana-sini.

Belum genap empat tahun umur Fatma ketika ayahnya dipindahtugaskan ke Bengkulu. Lalu, hari ini Bibi Witri datang berkunjung mengabarkan pesta pernikahan Edison, putra keduanya, sekaligus membawa kabar Nenek Nahadim telah berpulang tujuh hari lalu.

Fatma sebenarnya tidak begitu dekat dengan keluarga Lubuklinggau. Namun sebagai satusatunya putri Wenti, dia wajib hadir pada pesta pernikahan Edison bulan depan sekaligus selamatan empat puluh hari meninggalnya Nenek. Mewakili indungnya yang telah lewat selamatan seribu hari itu.

Wenti dan Witri adalah dua putri Nenek Nahadim. Bila Wenti hanya memiliki Fatma sebagai putri tunggal, Bik Wit, demikian Fatma memanggil, dikarunia dua putra dan tiga putri. Edison, yang akan menikah bulan depan, adalah adik Amirudin yang telah lebih dulu menikah dan menetap bersama istrinya di Sarolangun, Jambi.

Setelah Wenti meninggal, hubungan Fatma dan keluarga Lubuklinggau agak renggang. Meski tidak pernah ada selisih paham di antara mereka. Perbedaan bahasa mungkin salah satunya. Fatma yang besar di Bengkulu kurang mengerti bahasa Lembak yang digunakan sebagian besar keluarga Lubuklinggau. Juga Fatma yang berkarier tentu sibuk membagi waktu antara pekerjaan dan rumah tangganya bersama Jaudi. Mungkin kesibukan pulalah yang menyebabkan Fatma keguguran pada kehamilan pertama dulu.

Fatma tinggal di Bengkulu Kota, bersama ayah dan suaminya. Juga seekor kucing oddeye cantik yang dia beri nama Alena. Ayahnya sudah setengah pikun, sering salah menuang sampo ke sikat gigi, atau mengenakan sandal kanan di kaki kiri.

Fatma sedang menyiangi kubis untuk memasak sop sebagai menu makan malam di teras samping rumah ketika Bik Wit datang membawa kabar itu. Fatma tak tahu, apa perlu marah pada Bik Wit atas keabaian mengabarkan kematian Nenek. Bik Wit berkilah susah mencari waktu yang tepat untuk mengabari Fatma tentang meninggalnya Nenek, sebab pada hari Nenenk meninggal, jalur Lubuklinggau-Bengkulu ditutup akibat ada kerusuhan warga. [1] Fatma ingin marah, tapi kemarahan tak mengubah apa-apa. Fatma pun memilih diam.

Advertisements