Cerpen Erwin Setia (Koran Tempo, 20-21 Oktober 2018)

Boneka Terakhir Seli ilustrasi Koran Tempo.jpg
Boneka Terakhir Seli ilustrasi Koran Tempo 

Seharusnya jam delapan pagi itu Seli duduk manis di ruang kelas taman kanak-kanak sebagaimana anak-anak seusianya, bukan memotong-motong boneka barbie dengan pisau seperti ibunya memotong bahan-bahan olahan kue. Ia sendirian di dalam kamar, tapi tidak sepenuhnya sendiri. Boneka-boneka barbie hadiah ibu dan bibinya berbaris acak di sisi tempat tidur dan meja belajar menemani Seli. Boneka-boneka itu memiliki wujud janggal. Tubuhnya terpenggal-penggal, tercerai-berai bagai daging sapi setelah dijegal tukang jagal. Seli masih memotong-motong boneka berpakaian merah muda itu, mengiris bagian lehernya yang alot khas benda plastik.

Ketika Seli berhasil memisahkan kepala boneka itu dari tubuhnya, terdengar bantingan benda keras dari kamar sebelah. Kamar ibunya. Seli tak menghiraukan suara riuh itu. Ia sudah terlampau biasa mendengarnya. Banyak suara lebih keras dan menggelegar daripada itu pernah ia dengar. Seli memindahkan boneka yang terbelah batang lehernya ke atas meja belajar. Disusunnya boneka itu bersama boneka-boneka lain yang juga cacat dan terbengkalai tubuhnya.

Baca juga: Ke Mana Perginya Kucing-Kucing – Cerpen Erwin Setia (Haluan, 25-26 Agustus 2018)

Gadis mungil berambut panjang terurai itu mengambil satu lagi boneka dari tempat tidurnya. Satu-satunya boneka bertubuh lengkap yang masih tersisa. Itu boneka yang kali pertama dan terakhir ibunya belikan untuk Seli. Boneka itu berambut kuning panjang terkuncir, mengenakan gaun putih, dan bersepatu manik-manik. Mata boneka itu terlihat mencolok, membulat besar dan memantulkan sinar saat terkena cahaya.

“Boneka ini mirip kamu, Seli. Bedanya ia berambut kuning, sedangkan rambutmu hitam legam,” kata ibunya suatu malam ketika menjelaskan perihal boneka itu. Seli menatap wajah ibunya.

“Berarti boneka ini mirip ibu juga, ya? Kan Seli mirip ibu. Tapi, mengapa rambut ibu tidak ada?”

Advertisements