Cerpen Seto Permada (Rakyat Sultra, 15 Oktober 2018)

Cornelia dan Api di Dadanya ilustrasi Rakyat Sultra.jpg
Cornelia dan Api di Dadanya ilustrasi Rakyat Sultra

Sudah tiga minggu, Cornelia terbaring lemah di rumah sakit. Wajahnya begitu pucat untuk menghitung jumlah para pembesuk. Hidungnya sangat akrab— bahkan kebal—dengan bau obat-obatan. Kata dokter, ia baru boleh pulang tiga hari lagi. Namun baginya, tiga hari sama dengan seminggu. Ia ingin kembali menjalani rutinitas harian, menonton televisi, menyusun puzzle, atau bercengkerama dengan Choki—kucingnya.

Saat ini, umur Cornelia 7 tahun hampir 8 tahun. Ia menderita penyakit tifus yang belum sembuh-sembuh. Padahal, anak-anak yang dirawat di ruang lain sudah diizinkan pulang. Sedangkan dua hari lagi adalah hari ulang tahunnya. Dengan tatapan mata sendu, ia menarik tangan ibunya. Tarikan itu terasa lemah, tetapi cukup kuat untuk membuat pandangan ibunya teralihkan dari orang-orang yang melewati ruang inap itu.

“Bu, sekarang tanggal berapa?”

“Tanggal 20 September 2018, Lia. Kenapa?”

“Ibu ada kado apa untuk Lia di tanggal 23 September?” Ibunya berpikir cukup keras. Ada kerutan di dahi yang mencar kembali. “Kado dari Ibu hanya satu, Lia. Di tanggal 23 September besok, Lia Ibu bawa pulang.”

Baca juga: Preman Pamit Tobat – Cerpen Ferry Fansuri (Rakyat Sultra, 06 Agustus 2018)

“Benarkah, Bu?”

Wanita berkerudung putih dan berkebaya merah itu mengiyakan pandangan mata berbinar dari Cornelia. Gadis kecil itu sudah tidak sabar ingin melihat rumahnya kembali dan buru-buru main dengan Choki.

“Bu, Bu. Choki bagaimana? Apa dia kelaparan di rumah?”

“Tenang, Lia. Sudah diurus Ayah. Setiap hari Choki naik ke atap rumah dan meraung-raung.”

“Mungkin dia rindu Lia, Bu.”

“Semoga begitu, Lia.”

Advertisements